Mimpi Mimpi Si Anak Belitong

Sabtu itu, adik saya mengeluh tentang hardisk komputernya yang overload dan menimbulkan pop-up imut di sebelah bawah-kanan layar monitor bertuliskan, "low disk space". Sebagai kakak yang baik, ramah, rendah hati, dan tidak sombong ( serta gemar menabung tentu saja), saya hanya berkata lirih plus cool gaya wapres republik mimpi, "don't wory brother, just buy a new drive !" Akhirnya siang itu kami bergegas pergi ke pusat komputer terbesar se Bandung Raya, Bandung Electronic City (BEC) untuk membeli seperangkat hardisk baru - dibayar tunai. Tapi sebelum ke BEC, ibu saya tercinta minta dibelikan kamus bahasa Arab-Indonesia di Palasari. Akhirnya kami merubah haluan ke Palasari terlebih dahulu. Di palasari kami langsung menuju toko buku langganan kami, Bandung Book Corner (BBC), selain jumlah judul bukunya yang lengkap dan banyak serta di jamin original (pendukung HAKI cuy), hampir seperti Gramedia, tiap buku di kenakan diskon sebesar 20-30 % bahkan beberapa judul ada yang diobral setengah harga. Setelah masuk ke toko buku, ternyata yang di beli bukan hanya kamus bahasa Arab-Indonesia titipan ibuku saja, adikku membeli setumpuk buku, sayapun demikian. Dan diantara buku buku yang saya beli ada tiga buku yang mengubah segalanya, mengubah tujuan-tujuan saya, yang mengubah perjalanan hidup dan rencana hari itu dan selanjutnya, tiga buku itu masing-masing berjudul, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor, tiga novel tetralogi karangan seorang kuli PT Telkom yang bernama Andrea Hirata. Novel yang katanya kebanyakan orang mampu mengubah segalanya, mampu mengubah pandangan hidup seseorang, novel yang memberi inspirasi tentang arti hidup sebenarnya, tak heran jika ke tiga buku ini masuk kategori buku best seller Indonesia. Dan memang demikian adanya, ketiga novel itu seketika juga mengubah segalanya, mengubah tujuan-tujuan sebelumnya, bayangkan saja karena membeli ketiga novel itu uang yang tadinya untuk membeli hardisk tidak mencukupi lagi, akhirnya kami tidak jadi membeli hardisk baru, karena novel itu juga kami jadi tidak jadi ke tujuan semula, BEC, dan karena novel itu juga adik saya terpaksa menjadi seorang juru sortir penyabar untuk mendelet file-file yang tidak perlu di hardisk yang lama untuk memperoleh space yang memadai. Benar benar novel yang mengubah segalanya, pun ketika novel itu belum dibaca sedikitpun.Luar binasa!

Sebenarnya saya tidak suka membaca makhluk yang namanya "novel". Saya menganggapnya sebagai pekerjaan orang-orang yang tak ada kerjaan sama halnya seperti orang menonton sinetron atau yang lebih dikenal dengan setantron. Saya tak habis pikir mengapa orang-orang mau-maunya membaca ratusan bahkan ribuan halaman yang berisi kisah-kisah hampa, yang tidak benar-benar ada di alam ini. Saya tak habis pikir, mengapa orang orang mau di bodohi dan di bohongi sama si penulis novel sampai tersedu sedan (terima kasih Chairil Anwar). Kenapa orang mau-maunya menangis hanya untuk sebuah cerita bohong, kosong, dan tidak pernah terjadi didunia ini, cerita yang hanya ada di benak dan imajinasi si penulis novel. Apa untungnya. Bukankah masih banyak bahan bacaan yang bermanfaat. Di sana ada buku tebal yang berjudul Kalkulus yang ketika kuliah dulu kadang saya jadikan ganjal kepala ketika tiduran di kosan, ada buku Java2 nya Ivon Horton, ada buku Networkingnya Cisco, ada buku-buku agama yang dapat menjelaskan Halal-Haram dan dapat menyelamatkan hidup seseorang dunia dan akhirat (bagi yang percaya). Atau kalaupun harus membaca tentang kisah seseorang, mengapa tidak membaca saja buku Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, atau Memoarnya Bung Hatta yang jelas-jelas adalah kisah nyata, yang kejadiannya benar-benar terjadi, dan ada. Kenapa kita harus buang-buang waktu dengan cerita-cerita hayal dari novel-novel itu. Itu pandanganku terhadap novel. Terserah orang bilang kalau saya tak punya cita rasa sastra, yang pasti nilai bahasa indonesia saya tak pernah kurang dari 8 dari sd sampai SMA, dan mendapat nilai A ketika kuliah, saya senang membuat puisi,cerpen,dan beberapa cerpen saya bahkan pernah dimuat dimedia masa. Masalahnya bukan tentang sastra nya tetapi tentang prioritas, prioritas membaca bacaan yang bermutu, "waktu yang kita miliki jauh lebih sedikit daripada amanah yang harus ditunaikan !", begitu ucap seorang tokoh gerakan Islam dari Mesir, Hasan Al Bana. Tapi terkadang saya juga tertarik untuk membacanya hanya karena penasaran dengan embel-embel best sellernya, dan memiliki nilai moral yang tinggi seperti Ayat-ayat cintanya Kang Abik atau berdasarkan dari kisah nyata seperti novel-novelnya Torey Hayden atau karena ada nilai lebih dari pada sekedar bahan bacaan penghibur hati, seperti Negara Kelima dan Rahasia Meede nya Es Ito yang mengandung paparan History yang mengagumkan. Untuk novel-novel yang lainnya cukuplah saya menonton yang sudah difilmkannya saja, cukup dengan waktu maksimal 2 jam dengan menonton filmnya, kita tidak harus menyisihkan berjam-jam kadang berhari-hari untuk membaca novelnya. Novel tetra logi Laskar pelangi ini tarmasuk yang saya baca karena embel-embel best sellernya, nilai moral yang dikandungnya, dan karena berdasarkan kisah nyata penulisnya. Saya penasaran karena hampir semua orang membicarakannya, saya buka internet banyak orang yang mendiskusikannya, di gramedia atau toko-toko buku novel ini di pampang di deretan terdepan, maka dengan mantap saya meraih ketiga novel tetralogi ini (novel yang keempat berjudul Maryamah Karpov konon akan terbit sekitar bulan juli tahun ini) dan membawanya pulang - tentu saja setelah membayarnya.

Membaca novel pertama, Laskar Pelangi, awalnya saya dibuat bosan oleh penuturan sang penulis. Novelnya hanya bercerita tentang kondisi alam kampung halaman sang penulis yang bernama Belitong, tak ada kisah, hanya deskripsi dengan taburan istilah-istilah antah berantah yang tidak saya pahami, tentang pohon filicium yang tak dapat saya bayangkan seperti apa bentuknya, tentang nama mebel dan makanan orang orang kaya PN Timah yang tak terpikir seperti apa rupanya, sungguh menjemukan. Dalam benak ini saya menduga bahwa si penulis hanyalah orang yang tebar sensasi dengan istilah istilah asingnya, bahkan kalau misalkan si penulis disuruh menuliskan nama sejenis tumbuhan yang tumbuh di sawah dan menjadi makanan pokok rakyat indonesia, penulis akan menggunakan istilah oryza sativa alih-alih padi yang mudah dipahami. Bahkan untuk menuliskan nama pulau tempat hidup sang penulis, ia lebih senang mengejanya dengan Belitong alih-alih Belitung yang lebih dikenal orang. Saya baru sadar kalau Belitong yang penulis maksudkan adalah pulau Belitung tetangganya pulau Bangka setelah saya membaca 400 halaman novel tersebut, itupun karena penulis menyebut-nyebut pulau bangka sebagai tetangga pulaunya. Sungguh menjemukan. Malas saya membacanya. Akan tetapi didorong oleh rasa penasaran, dimana sebenarnya menariknya novel ini sampai orang-orang rela membuang waktunya untuk mendiskusikan novel metafora ini, akhirnya dengan semangat 45 (membaca dari jam 4 sampai jam 5 tiap sore) saya teruskan membacanya, dan terungkaplah keindahan-keindahan dari novelnya anak Belitong ini. Keindahan tentang persahabatan 10 orang anak manusia yang bernama Ikal(Andrea), Lintang, Mahar, Trapani, A Kiong, Syahdan, Harun , Sarah, Kucai, dan Samson yang menamakan diri mereka Laskar Pelangi dan bertambah menjadi sebelas diakhir cerita dengan kehadiran gadis tomboy, anak orang kaya PN Timah, yang bernama Flo. Keindahan tentang dedikasi seorang guru yang bernama Ibu Muslimah di sebuah sekolah yang nyaris tutup karena jumlah muridnya hanya sepuluh tempat anggota laskar pelangi menuntut ilmu. Keindahan tentang perjuangan anak kampung yang sangat cerdas bernama Lintang yang harus menempuh perjalanan 80 km plus melewati sungai yang dihuni banyak buaya dengan sepeda bututnya untuk dapat bersekolah, dan akhirnya sekolahnya putus ditengah jalan bukan karena perjalanan yang merintanginya akan tetapi karena ayahnya meninggal sedangkan dia adalah anak sulung yang harus menjadi tulang punggung keluarga besarnya. Keindahan kreativitas seorang anak yang bernama Mahar yang dengan dengan ide ide kreatifnya mampu mengangkat derajat sekolahnya, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai sekolah kampung yang biasa. Keindahan tentang cinta antara si Ikal dan gadis tionghoa berjari indah yang akhirnya harus kandas karena sang gadis harus merantau ke Ibu kota Jakarta.

Membaca novel ini, kita akan dibawa hanyut menyusuri lekuk-lekuk pulau Belitong sebagai tempat kejadian perkara, menyelami kondisi sosial dan kehidupan orang-orang didalamnya, memahami hierarky sosial penduduknya. Kemudian penulis akan membawa kita menyusuri lorong lorong sd muhammadiyah, mengajak berkenalan dengan seorang guru penuh dedikasi yang bernama ibu muslimah, mengajak berpetualang dengan anggota Laskar Pelangi yang masing masing memiliki karakter yang unik, serta ikut merasakan letupan letupan perasaan cinta yang dialami penulis terhadap gadis tionghoa berjari indah. Akhirnya penulis akan membawa kita melesat jauh ke masa depan, 12 tahun setelah mereka lulus dari sd dan smp muhammadiyah untuk menyapa kabar anggota laskar pelangi setelah 12 tahun berlalu. Sungguh kisah persahabatan yang memukau ditengah kondisi sosial yang seadanya.

Pada bukunya yang kedua, Sang Pemimpi, gaya pemaparan sang penulis terasa lebih renyah. Alunan kisah per bab nya lebih pendek dan memukau meskipun terkadang antara satu bab dengan bab lainnya tidak berhubungan secara langsung. Mungkin hal ini menjadi salah satu keunikan dari novelnya Andrea, tiap bab dari novelnya adalah suatu cerita pendek yang sangat menarik.

Jika pada buku pertamanya, Laskar Pelangi, mengisahkan tentang kehidupan penulis dan kawan-kawannya semasa SD hingga SMP, maka pada bukunya yang kedua ini penulis mengajak kita berkenalan dengan 2 kawan barunya di SMA yang bernama Arai dan Jimbron. Arai adalah saudara sepupunya yang hidup sebatang kara yang kemudian diangkat menjadi saudara angkatnya, ibunya telah lama meninggal sedangkan ayahnya baru saja berpulang ke rahmatullah. Arai meskipun nakal adalah anak yang cerdas ia senantiasa mendapat peringkat lima besar di SMA nya, setia kawan, hal ini dibuktikan dengan kerja keras yang dilakukannya di peternakan kuda hanya agar bisa meminjam kuda itu untuk diperlihatkan kepada temannya, Jimron, yang tergila-gila akan kuda. Arai juga kaya akan ide-ide kreatif dan jiwa sosial yang terkadang tidak bisa diduga, hal ini terlihat ketika ia memecahkan celengannya dan membeli sekarung terigu dan gula untuk membantu keluarga Maryamah Karpov agar bisa hidup dengan berjualan kue. Disisi lain Arai juga memiliki jiwa optimis untuk mencapai mimpi-mimpinya dan terus menerus mendorong penulis dan pembaca untuk tidak berhenti bermimpi, dan mungkin ini yang melatar belakangi judul dari novel kedua ini, Sang Pemimpi . Sahabat keduanya adalah Jimron, meskipun tidak secerdas Arai dan Ikal dan terkadang gagap kalau berbicara, tetapi ia adalah sahabat ang sangat setia kawan, ini terlihat ketika Arai dan Ikal hendak merantau ke Jakarta, Jimron memberikan 2 celengan kudanya yang selalu ia isi sejak pertama kali mendapatkannya untuk masing masing sahabatnya itu. Jimron memang sangat tergila-gila kepada segala hal yang berbau kuda, konon karena ia berfikir bahwa dengan mengendarai kuda seperti yang ia saksikan di tv ia akan dapat menyelamatkan nyawa ayahnya yang tiba-tiba terserang penyakit jantung ketika membonceng dirinya, dan tidak dapat ia selamatkan.

Pada buku keduanya ini, pusat cerita memang berputar disekitar persahabatan tiga anak manusia tersebut, tepatnya pada tokoh yang bernama Arai. Seorang pemuda yang memegang teguh mimpi-mimpinya dan akhirnya mampu merealisasikan mimpinya itu yang dipaparkan pada buku ketiganya, Edensor.

Pada buku ketignya, penulis mengisahkan tentang perjalanan hidupnya di Sorbone, Prancis, ketika ia mengambil beasiswa S2 untuk kuliah Finance nya bersama sahabat sekaligus saudara angkatnya, Arai yang mengambil Microbiologi. Paris adalah salah satu kota yang menjadi mimpi kedua orang ini ketika SMA dulu, bahkan dalam acara Talk Show Kick Andi di Metro TV penulis mengatakan bahwa Paris juga adalah mimpinya Lintang, anggota Laskar Pelangi, sahabat masa kecil yang memberinya inspirasi dan semangat untuk menggapai pendidikan yang tinggi. gurunya memberikan gambar kota ini dan memberi semangat kepada mereka agar suatu ketika mereka akan mengunjungi tempat tersebut. Selain itu sang guru juga berpesan agar mereka juga mengelilingi Eropa sampai Afrika. Dulu kedua hal ini hanya menjadi mimpi bagi keduanya tetapi beasiswa yang mereka terima akhirnya benar-benar mewujudkan mimpi mimpi tersebut karena ketika liburan musim panas keduanya benar-benar merealisasikan mimpinya itu, mengelilingi Eropa sampai ke Afrika melalui jalur darat dengan bermodal dengkul sebagai bagpacker sebutan bagi para pengelana yang berpetulang hanya dengan ransel dan kantung tidurnya. Bahkan ide gila kedua orang ini akhirnya memprovokasi teman-teman kuiahnya untuk ikut berkeliling eropa-Afrika dengan menjadi bagpacker dan membiayai perjalanannya dengan menjadi para pengamen jalanan, siapa yang paling banyak menyinggahi negar-negara di Eropa-Afrika, merekalah yang memenangkan pertaruhan itu. Dan pada akhirnya hanya Ikal dan Arai lah yang mampu mengelilingi Eropa sampai Afrika, dan keluar sebagai pemenang kompetisi antara teman-temannya itu. bagi Ikal sendiri perjalannannya ini, selain untuk merealisasikan mimpi dia dan guru SMA nya, ia juga ingin kembali mencari mimpi masa-masa indahnya dengan gadis Tionghoa berjari indah, A Ling, cinta pertamanya yang akhirnya harus berpisah karena sang kekasih harus merantau ke Jakarta dan kemudian tidak diketahui lagi keberadaannya. Setelah ia searching diinternet dengan key word A Ling, ia menemukan nama-nama itu di beberapa negara di eropa, dan kesanalah Ikal melakukan perjalannanya sebagai bagpacker. Meskipun akhirnya sampai ke Afrika, ia tidak menemukan gadis yang dicarinya. Tapi pada akhir cerita, ketika ia harus pindah dari Prancis ke London agar bisa terus berhubungan dengan pembimbing tesisnya, seara tidak sengaja ia berhasil menemukan tempat yang senantiasa diimpi-impikannya, Edensor. Di buku pertamanya, Laskar Pelangi, diceritakan bahwa Edensor adalah nama sebuah tempat yang menjadi setting dari sebuah novel yang diberikan oleh A Ling kepada Ikal ketika A Ling meninggalkannya untuk merantau ke Jakarta. Dan selanjutnya ketika Ikal merasa rindu kepada A Ling atau ketika ia patah semangat, ia melimpahkan kerinduannya kepada tempat yang bernama Edensor tersebut. Dan mimpi-mimpi anak belitong itu akhirnya terwujud sudah.

1 comments:

Anonymous said...

Wah aku lagi baca buku kedua baru 1/2 buku . Jadi gak ngebaca reviewnya semua. Tapi udah kepincut dari buku pertama.

Copyright © 2008 - My Lo(v/n)ely Journey - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template