Wakatobi Journey : Day 2

10 mei 2012

Setelah terombang ambing dilautan selama lebih dari 12 jam, dan melewatkan sarapan pagi di kapal karena ombak yang lumayan besar, kapal kayu Wisata indah 1 sampai juga di perairan pulau Tomia sekitar pukul  11 siang. Karena tujuan akhir kapal ini adalah pulau (lupa namanya) dan tidak berhenti di pulau Tomia, di lepas pantai pulau Tomia kami berganti kapal dengan kapal lebih kecil yang sudah di carter sebelumnya untuk menuju pelabuhan Tomia. Kapal kecil yang bernama Romeo ini juga yang nantinya akan kami gunakan untuk hoping island dan snorkling/diving di sekitar Tomia. 

KM Romeo

menuju pelabuhan Tomia dengan KM Romeo

Pulau Tomia merupakan pulau hasil pengangkatan dasar laut ribuan tahun yang lalu sehingga tak heran kalau pulau ini terkesan tandus dan kaya akan bebatuan kapur.  Konon kabarnya penamaan pulau ini berawal dari sebutan pelayar Binongko yang melihat ada manusia di bukit Tomia, yang menurut bahasa setempat To = ada dan Mia = orang/manusia. Dan penamaan inilah yang dipakai dan dikenal hingga sekarang. Sebagian besar pendduduk tomia tinggal di pesisir dan bermata pencaharian sebagai nelayan.

 perairan di pelabuhan Tomia yang sangat jernih

suasana pelabuhan Tomia
Sesampainya di pelabuhan Tomia, kami bergegas untuk ke penginapan tak jauh dari pelabuhan yg berjarak sekitar 5 menit dengan berjalan kaki. Meskipun penginapan itu dari luar terlihat kurang meyakinkan, tetapi begitu masuk ke dalam kesan itu hilang seketika. Kamarnya cukup besar untuk di tempati dua orang, terdiri dari tempat tidur, TV, AC, dan yang paling penting, bersih ! Setelah istirahat sejenak, men-jama solat, dan makan siang di penginapan dengan menu, tentu saja, ikan !  sekitar pukul 2 siang perjalan pun dilanjutkan untuk mengeksplorasi pulau Tomia dengan menggunakan pete-pete, sebutan untuk angkot bagi kebanyakan masyarakat Indonesia timur, yang sudah di carter.

Gowa Te'wali

Objek pertama yg kami kunjungi adalah Goa Te'wali Setelah perjalanan kurang lebih tiga perempat jam melalui jalanan setapak  berbatu yg semakin menyempit, pete pete yang kami tumpangi akahirnya tiba di Goa Te'wali. 

pintu masuk GoaTe'wali

air yang jernih terlihat di dasar Goa Te'wali

 
 suasana sekitar Goa Te'wali

Goa yang menjorok ke bawah sekitar 8 meter ini, berujung pada sebuah kolam air yang sangat jernih. Tanpa menunggu lebih lama  kami langsung nyebur ke dalam kolam air tersebut. Kesegaran pun langsung menyergap tubuh yang sejak sedari tadi terpapar udara Tomia yang panas. Setelah kurang lebih setengah jam berenang renang dan menikmati kesegaran kolam air di goa Te'wali perjalananpun di lanjutkan ke Benteng Patuha.

Benteng Patuha

Benteng yang terletak sekitar 3 km dari kelurahan Waha tepatnya di desa Kollo Patua ini didirikan sekitar abad ke-18. Dulunya merupakan wilayah otonom yang masih di bawah kekuasaan kesultanan Buton. Benteng yg didirikan pada ketinggian 100 meter di atas permukaan laut ini  di bangun untuk mengawasi dan mempertahankan wilayah pemerintahan dari serangan bajak laut, seperti layaknya benteng Wolio di Bau Bau. 

  
menuju ke puncak Benteng Patuha

Sama halnya dengan benteng Wolio, benteng seluas hampir satu setengah lapangan bola ini di bangun oleh batuan pegunungan dan batu koral. Bedanya, bangunan benteng ini sudah tidak ditinggali lagi dan tidak terawat sehingga tampak beberapa batuan yang menyusun bangunan benteng sudah mulai rapuh di sana sini. 

 
 suasana di puncak benteng Patuha

Dibagian pojok benteng yang menghadap ke laut banda terdapat sebuah makam yang diyakini makam orang nomor satu kala itu. Di dekatnya masih terlihat sisa sisa sebuah meriam yang di pakai untuk melindungi benteng.

pemandangan dari puncak benteng Patuha 

Setelah puas mengelilingi benteng dan berfoto foto selama kurang lebih satu jam,  pete pete yang kami tumpangi berjalan meninggalkan benteng, meninggalkan kemegahan Patuha di masa lalu. Destinasi berikutnya adalah menunggu sunset di Bukit Tomia.

Bukit Tomia

Sesampainya di bukit tomia, yang terucap hanya kata "Wow!". Bukit Tomia di tutupi oleh padang savana yang sangat indah sejauh mata memandang. Suasannya benar benar membuat kita lupa kalau masih berada di kepulauan Nusantara. Hal inilah yang mendorong beberapa dari kami melompat dari pete-pete sebelum pete-pete itu sampai di tempat pemberhentiannya, karena sudah tidak sabar untuk menjejak tanah di savana yg mulai kuning keemasan tersapu sinar matahari sore. Saking bersemangatnya untuk mengabadikan pemandangan yang indah di bukit ini, filter CPL yang menempel di lensa  kamera sempat rusak karena tertarik tidak sengaja dari tempatnya dan tidak bisa digunakan saat itu.

bukit Tomia menjelang sunset

 
 
 
 
 
 bukit Tomia ketika sunset
 
Di atas bukit ini, kami dapat melihat perairan Tomia dan pulau pulau disekitarnya. Hangatnya sinar mentari sore dan angin  sepoi sepoi semakin menambah kesan hipnotis di bukit itu. Sebagian besar waktu di bukit ini dihabiskan untuk mengabadikan keindahan padang savana dan langitnya yang berubah merah menjelang matahari terbenam. Setelah matahari tenggelam sempurna di ujung bukit, kami pun bergegas kembali ke penginapan.

Sekitar pukul setengah tujuh malam kami pun tiba kembali di penginapan di desa waha. Listrik malam itu sudah kembali menyala setelah padam dari pukul dua siang tadi. Listrik di pulau ini memang menyala dari jam lima sore samapai sekitar tengah hari, untuk kemudian dipadamkan sampai jam 5 sore.  Setelah menyantap  makan malam dan memperbaiki filter CPL yang sempat rusak di bukit Tomia  kami pun beristirahat, mengumpulkan kembali tenaga untuk perjalanan esok hari.

Wakatobi Journey : Day 1

9 Mei 2011

Waktu hampir menunjukkan pukul satu dinihari, setelah cuci muka dan tidur kurang lebih dua setengah jam, saya mengintip ke luar jendela. Taksi yang di booking bada maghrib tadi belum juga muncul, padahal saya harus sudah sampai di bandara pukul 02.30 dini hari. Akhirnya saya cek ke ujung gang, setelah bolak balik akhirnya ketemu juga, ternyata sang sopir menunggu di gang yang salah, maklum taksi ngga bisa sampai depan kosan karena lebih dari jam 11 malam jalan yang menuju ke kosan sudah diportal.

Setelah memandu sang sopir ke " jalan yang benar ", saya membopong barang bawaan yang telah di packing bada isya tadi menuju taksi yang diparkir di ujung gang, sebuah ransel berisi kamera, sebuah tripod, dan sebuah ransel yg berisi pakaian untuk 6 hari kedepan. Waktu hampir menunjukkan pukul setengah dua dini hari ketika taksi meluncur ke Bandara Soekarno Hatta. Ternyata di luar dugaan, tak lebih dari 30 menit taksi sudah tiba di bandara. Truk truk besar yg biasanya ramai di jalan tol, malam itu hanya beberapa yang terlihat.

Sebenarnya penerbangan ke dari Jakarta ke Makassar pukul 4 dini hari,tapi untuk menghindari hal hal yg tidak diinginkan dan memudahkan koordinasi, panitia keberangkatan mematok waktu paling telat jam 2.30 untuk kumpul dan cekin. Namun kenyataan dilapangan berkata lain, counter Lion Air untuk penerbangan Makassar baru dibuka sekitar jam tiga dinihari. Dan jam 4 lebih beberapa puluh menit pesawat pun membawa kami berlima ke Makassar.

Perjalanan Jakarta - Makassar ditempuh kurang lebih selama dua jam. Karena ada perbedaan waktu lebih satu jam di Makssar, kami tiba sekitar pukul setengah delapan pagi di Bandara Internasional Hassanudin Makassar. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di kota Makassar. Sekilas pandang, bandaranya terlihat rapih dan luas, didominasi warna putih dengan sudut sudut dan desain bangunan yang terlihat lebih modern dibandingkan dengan bandara Soekarno hatta yaang mengusung tema tradisional.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami  menyempatkan sarapan coto makassar seharga 25 ribu di salah satu kafetaria bandara yang , sangat disayangkan, tidak begitu enak. Disini juga kami bertemu kawan kawan dari Wego dan Explore Solo yang sudah stay sebelummnya di Makassar dan akan memandu trip kita selama di Wakatobi, di tambah satu kawan peserta trip reguler Wakatobi yang di selenggarakan oleh Explore Solo. Setelah sarapan, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota Bau Bau dengan pesawat perintis dari Merpati Air. Perjalanan Makassar-Bau Bau ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Sekitar jam 11 siang pesawat pun mendarat di Bandara Betoambari, Bau Bau.

 pesawat Merpati Air yang kami tumpangi dari Makassar ke Bau Bau

Selamat Datang di  Bandara Betoambari

Bandara Betoambari sangat sederhana. Hanya ada 3 air lines yg melayani penerbangan dari dan ke Bandara ini, yaitu Wings Air, Express Air, dan Merpati Air. Itupun tidak semuanya beropersi setiap hari. Di sini kami di sambut satu orang lagi kawan dari Explore Solo yang sudah stay  di kota ini sebelumnya untuk mengurus akomodasi selama di Bau Bau. Setelah mengambil bagasi yang diletakkan begitu saja di luar ruang tunggu, kami pun berangkat menuju penginapan yg berjarak sekitar 20 menit dengan berkendara.

 papan selamat datang menyambut penumpang di Bandara Betoambari
Bandara Betoambari, Bau Bau

 pesawat Merpati Air parkir di Bandara Betoambari, Bau Bau
 
Setelah beres beres, solat,  dan istirahat sejenak di penginapan, sekitar pukul setengah dua siang kami menyantap makan siang di restoran di dekat pelabuhan yang dapat ditempuh sekitar lima menit dengan berjalan kaki. Menu siang itu adalah Sup Ikan Parende, salah satu kuliner khas daerah itu.

Sop Ikan Parende

Air Terjun Tirta Rimba 

Sesudah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke air terjun Tirta Rimba atau biasa disebut juga air jatuh Tirta Rimba. Lokasi objek wisata ini sekitar 4 km dari kota Bau Bau atau sekitar 20 menit berkendara melalui jalanan Kota Bau Bau yang rata rata menerapkan sistem satu jalur. Air terjun setinggi kurang lebih 10 meter dan lebar 5 meter yang merupakan aliran sungai Kalakuna ini berujung di sebuah kolam yang cukup luas untuk berenang atau sekedar menyegarkan diri. Pada saat kami sampai ke objek wisata ini, tampak beberapa anak kecil sedang berenang dan bermain air di air lokasi wisata ini. Tiba tiba salah seorang anak menunjuk ke cabang salah satu pohon di dekat kami. Satu hal yang membuat kami sedikit kaget ketika itu, sekaligus menunjukkan masih sangat alaminya objek wisata ini, adalah seekor ular putih yg sedang melingkar di salah satu cabang pohon yang ditunjuk oleh anak tersebut.

 anak anak bermain di air jatuh Tirta Rimba

Setelah hampir satu jam menikmati keindahan dan kesegaran serta mengabadikan gambar air jatuh ini, kami pun melanjutkan perjalanan ke Benteng Wolio. Namun tak jauh dari pintu masuk yg sekaligus pintu keluar air jatuh, kami sempatkan mampir ke tulisan Bau Bau raksasa di pinggir jalan Anoa layaknya tulisan Hollywood untuk foto foto.

tulisan Bau Bau raksasa

Benteng Wolio

Setengah jam kemudian kami sampai di salah satu pintu gerbang benteng Wolio. Benteng yang telah ditahbiskan oleh Guiness Book of The record pada tahun 2008 sebagai benteng terluas di dunia ini memiliki luas sekitar 22.8 hektar dengan panjang benteng sekitar 2.7 kilometer yg dilengkapi dengan  12 lawa atau pintu gerbang dan 16 bastasion yang dilengkapi puluhan meriam untuk melindungi bneteng. 12 lawa diidentikan oleh masyarakat buton sebagai 12 lubang dalam tubuh manusia, yakni dua lubang mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang anus, satu lubang mulut, satu lubang kecing, satu saluran sperma, satu lubang pusat, dan satu lobang keringat atau pori-pori. Lubang keluarnya sperma pada tubuh manusia, dianalogikan dengan pintu rahasia kerajaan, yakni pintu tempat keluarnya keluarga kerajaan kalau ada bahaya yang mengancam kerajaan.

salah satu sudut Benteng Wolio 

Benteng yang berjarak sekitar 3 km dari pelabuhan Murhum, Bau Bau ini dibangun dari batuan gunung dan koral yg direkatkan satu dengan yang lainnya dengan menggunakan kapur dan pasir,bahkan konon dengan agar agar rumput laut. Hal inilah yang membuat Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2006 mencatatnya sebai benteng terunik di dunia.

Benteng ini merupakan salah satu peninggalan kesultanan Buton yang sangat penting, di bangun diketinggian sekitar 300 meter dari permukaan laut, ditujukan untuk melindungi Kesultanan buton yg terletak di jalur strategis perdangan rempah rempah dari serangan Bajak laut dan kerajaan kerajaan disekitarnya seperti kerajaan Gowa di Makassar dan kesultanan Ternate di Maluku Utara.

 anak anak Benteng Wolio

Benteng yg sekarang di diami oleh sekitar 2000 penduduk yang rata rata berdiam dalam rumah panggung berbahan kayu ini didirikan sekitar akhir abad ke 16 atau awal abad ke 17. Pembangunan dimulai pada akhir pemerintahan sultan ke -3 La Sangaji atau awal pemerintahan sultan ke 4 La Elangi ( panggilan untuk laki laki buton menggunakan awalan La sedangkan untuk perempuan menggunakan awalan Wa ) dan berakhir pada akhir masa pemerintahan sultan ke 5 Gofur Wadudu. Pembangunannnya menguras harta dan energi rakyat Buton. Pada masa pembangunan benteng ini kegiatan bercocok tanam sangat dibatasi dan rakyat diwajibkan menyerahkan seluruh harta benda mereka untuk pembangunan benteng, bahkan angka kelahiran pada masa ini pun sangat kecil dan tidak sedikit rakyat yang tewas dlaam prosesnya.

Monumen yang memuat nama nama Raja dan Sultan Buton

Di dalam benteng ini terdapat Masjid Agung kesultanan yang didirikan pada tahun 1712. Di sebelah masjid berdiri dengah ringkih sebuah tiang dari kayu jati yang usianya sama dengan masjid. Tiang setinggi  21 meter itu dulunya digunakan untuk mengibarkan bendera kesultanan sepanjang 5 meter yang bernama Longa Longa. Konon kabarnya kayu ini didatangkan langsung dari Patani, Thailand. Dibawa oleh saudagar Patani yang merupakan mitra dagang kesultanan Buton sebagai cadangan kayu jika ada bagian kapal yang rusak ketika berlayar dari Patani ke Buton, sebelum akhirnya di minta oleh sultan Buton untuk dijadikan tiang bendera.

Masjid Agung kesultanan Buton

tiang bendera berusia 300 tahun

Tepat di depan masjid agung terdapat pelataran dan pendopo tempat berkumpul dn digelarnya acara acara sosial kemasyarakatan. Tepat di depan masjid juga terdapat Batu Popaua, yaitu batu berlubang yang digunakan untuk pelantikan semua raja dan sultan Buton. Inilah salah satu keunikan kesultanan Buton, sekaligus menunjukkan akar demokrasi yang kuat di Nusantara, gelar Sultan tidak diturunkan tetapi dipilih, diangkat, bahkan bisa diberhentikan oleh dewan tinggi kesultanan yang bernama Sio Limbona.

Batu Popaua

Buah Nanas dan Masyarakat Buton

Disalah satu sudut benteng, di sebelah makam Sultan Alimuddin ada sebuah patung irisan buah nanas yg ditidurkan yang sekilas tampak seperti kura kura. Buah nanas merupakan simbol kesultanan buton. Dahulu kala, konon, buah nanas ini memang banyak tersebar di Wolio, namun selama perjalanan kami di benteng Wolio dan Bau Bau, tidak satupun buah ini terlihat. Buah yg bisa tumbuh dimana saja ini, baik di daerah subur atau pun kering, dijadikan simbol kesultakan Buton karena memiliki filosofi yang sangat agung.

1.Pada bagian atas mempunyai daun Mahkota menggambarkan payung dan dianggap sebagai Pimpinan yang senantiasa mengayomi rakyatnya;
2.Pada bagian buah terdapat sisik yang sangat banyak sebagai rakyat umum dengan mendiami 72 Kadie (wilayah);
3.Daun yang berduri adalah gambaran jiwa untuk mempertahankan diri dari segala gangguan keamanan dan ketertiban dari manapun datangnya;
4.Buah yang manis adalah mencerminkan kebaikan dengan menempatkan prinsip kerendahan hati, sopan santun tutur kata dan tidak menyakiti orang lain;
5.Pada bagian pangkal bawah buah nenas terdapat daun yang melebar adalah landasan berpijak seluruh masyarakat yaitu sara patanguna, dengan  (empat prinsip hidup) yaitu :

Pomae maeka : Saling menghargai sesama manusia;
Popia piara : Saling memelihara sesama manusia;
Pomaa maasiaka : Saling menyayangi sesama manusia;
Poangka angkataka : Saling menghargai sesama manusia;
Pomae maeka : Saling takut sesama manusia;

salah satu sudut benteng yang terdapat monumen nanas


Naga Di Pantai Kamali

Setelah puas mengelilingi pinggiran benteng sepanjang 2.5 km, perjalananpun dilanjutkan ke pantai Kamali sambil menunggu Sunset. Dipantai yg terletak di jantung kota dan berdekatan dengan pelabuhan Murhum ini, berdiri patung kepala naga berwarna hijau yg cukup besar yg biasa disebut Lawero, yang ekornya terletak di bukit di dalam benteng Wolio persis di depan kantor walikota Bau Bau. Bagi masyarakat Buton, naga yang merupakan makhluk kayangan yang sakti dan cerdas melambangkan kekuasaan dan pemerintahan kesultanan Buton.

patung naga di pntai Kamali

Namun ada yg membuat saya heran dengan makhluk legenda yg Sangat identik dengan budaya Cina ini. Apakah dulu Buton ada hubungannnya dengan Cina? Selidik punya selidik ternyata Lawero yg di kenal oleh masyarakat Buton bukanlah seperti naga yang dikenal dalam budaya Cina. Lawero merupakan hewan seperti ular sebesar jari tangan yang memiliki rumbai rumbai  dibadannya dan biasa hidup di pohon libo. Hewan yang bisa berkokok seperti ayam ini pernah hidup di Buton, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Akan tetapi beberapa catatan sejarah memang pernah mencatat keterkaitan Buton dengan Imperium Cina melalui kehadiran sejumlah tokoh utusan Cina di Buton yang diyakini berperan penting dalam pembentukan kerajaan Buton.
 

 
  
aktivitas di pantai Kamali menjelang sun set

Menjelang malam pantai kamali dipenuhi pedagang kaki lima dan warung tenda disepanjang pantai yang menawarkan jajanan dan minuman khas bau bau, saraba, sejenis susu jahe. Setelah mencicipi jajanan dan foto foto di sekitar pantai kamali. Sekitar jam 6 sore kami kembali ke penginapan untuk persiapan berlayar ke Pulau Tomia di Wakatobi pada sekitar pukul setengah delapan malam.
sunset di pantai Kamali


Menuju Wakatobi ...

Jam setengah delapan malam, kami cek out dari penginapan. Setelah makan malam dengan menu ikan bakar, kami beranjak ke pelabuhan Murhum yang dapat ditempuh dari penginapan sekitar 10 menit dengan berjalan kaki. Perjalanan ke pulau Tomia ditempuh selama lebih kurang 12 jam dengan kapal kayu bermotor, Wisata Indah 1, dari pelabuhan Murhum.

pelabuhan Murhum dilihat dari pantai Kamali

Di dalam kapal setiap orang disediakan sebuah matras sepanjang 2 meter dengan lebar setengah meter untuk beristirahat yang disusun berhimpitan satu dengan lainnya. Suasana pengap begitu terasa di dalam kapal malam itu, terlebih lagi kami masih harus menunggu selama 2 jam lagi sebelum kapal berangkat. Kapal yg bisa memuat sekitar 100 orang penumpang ini dijadwalkan berangkat sekitar pukul 8 malam, tapi karena masih menunggu penumpang lagi, kapal baru berlayar sekitar pukul sebelas malam.  Setelah mengenggak sebutir Antimo, bukan untuk mencegah mabuk tetapi semata agar bisa cepat tidur, Sekitar pukul sebelas malam kapalpun mulai melepaskan tali temalinya, dan perjalanan memburu keindahan Wakatobi pun di mulai....

 Kapal Wisata indah 1

 
 di dalam Kapal Wisata indah 1

Wakatobi Journey : Let The Journey Begin


Perjalanan ini bermula dari sebuah email yang masuk ke inbox email saya. Tanggal masuk emailnya sudah lewat beberapa hari yang lalu, tapi baru terbaca malam sabtu tanggal 13 April 2012 ketika transit di  bandara Surabaya untuk menuju Jakarta. Maklum baru bisa online lagi setelah satu minggu di tugaskan di kota Ambon yang tidak tercover jaringan operator Three ( nasib salah pilih operator ) plus hampir satu minggu terapung apung di lautan timur indonesia sampai akhirnya berlabuh di Kupang.

Isi email itu memberitahukan bahwa saya mendapatkan hadiah trip gratis ke Wakatobi selama 5 hari 6 malam sebagai salah satu dari 5 pemenang Lomba Foto Travel Photo Lucky Draw : Ini Indonesia ! yang diselenggarakan oleh penyedia layanan pencarian/portal tiket pesawat, hotel, ataupun paket wisata, Wego Indonesia. Beberapa hari sebelum berangkat ke Ambon iseng iseng saya memang mengirimkan beberapa foto secara online untuk ikut kompetisi ini, tepatnya 3 hari sebelum kompetisi itu ditutup. Tapi tidak menyangka kalau keisengan itu berbuah manis :). Well ... Mungkin inilah yg disebut dengan taqdir alih alih memilih kata keberuntungan.

Tapi keputusan pemenang itu belum final, sampai saya menandatangani di atas matrai surat pernyataan tentang kesediaan waktu untuk berangkat ke Wakatobi dan menyetujui beberapa term and condition yg ditentukan oleh panitia. Dan surat pernyataan ini harus sudah diterima via email oleh panitia paling lambat jam 10 pagi tanggal 15 april 2012, artinya hanya ada waktu sekitar satu hari untuk mengisi, menandatangani, dan mengirimkannnya kembali ke panitia. Seandainya saya baru kembali ke jakarta 1 atau 2 hari lagi, rejeki itu mungkin gak jadi jatuh ke tangan saya. Akhirnya tanpa membuang waktu besoknya saya langsung mengisi dan mengirimkan kembali surat pernyataan yg sudah bertandatangan diatas materai itu ke panitia dan kemudian mengurus surat cuti untuk perjalanan ke Wakatobi pada tanggal 9. -14 mei 2012. Setelah semuanya beres, tinggal menunggu waktu ke berangkatan sekitar 3 minggu lagi.

Masalahnya sekarang adalah, saya tidak tahu apa dan dimana tempat yang namanya Wakatobi itu. Secara sepintas dari ejaan dan pelafalannya kata itu seperti salah satu tempat di Jepang, tapi itu tidak mungkin karena hadiah foto kontes ini adalah mengeksplore daerah wisata di Indonesia sesuai denga tema nya : ini indonesia ! Terus terang ketika saya mengikuti kontes foto ini, saya tidak terlalu peduli dengan hadiahnya, begitupun ketika saya membaca perjalanan ke Wakatobi sebagai hadiah utamanya. Yang pasti there is should be interesting place in Indonesia, kalau tidak menarik nggak mungkin jadi hadiah utama.

Maka di mulailah aktivitas browsing sana sini, mencari informasi tentang Wakatobi, tak banyak informasi yang di dapat di internet selain informasi bahwa Wakatobi adalah salah satu kabupaten di sulawesi tenggara yang terdiri dari 4 kepulauan besar yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko yang kalau disatukan kata depan ke empat pulau itu maka membentuk akronim WaKaToBi. Dan dari hasil pencarian itu juga diketahui pula kalau Wakatobi terkenal karena keindahan alam bawah lautnya. 

 

Well ... Tidak ada yang "luar biasa" sampai saya melihatnya secara langsung "The Amazing of Wakatobi" ....

Anak Anak Kapal

Setiap pagi dan petang, para remaja hilir mudik di atas perahu perahu kecil, pulang dan pergi ke arah kapal kapal yang bersandar di pelabuhan Tanjung Priok, untuk sekedar mencari rupiah untuk makan hari itu, sebagian kecil yang beruntung untuk menyongsong masa depan mereka ...


captured by Canon Ixus 1000HS

Copyright © 2008 - My Lo(v/n)ely Journey - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template