Wakatobi Journey : Day 2

10 mei 2012

Setelah terombang ambing dilautan selama lebih dari 12 jam, dan melewatkan sarapan pagi di kapal karena ombak yang lumayan besar, kapal kayu Wisata indah 1 sampai juga di perairan pulau Tomia sekitar pukul  11 siang. Karena tujuan akhir kapal ini adalah pulau (lupa namanya) dan tidak berhenti di pulau Tomia, di lepas pantai pulau Tomia kami berganti kapal dengan kapal lebih kecil yang sudah di carter sebelumnya untuk menuju pelabuhan Tomia. Kapal kecil yang bernama Romeo ini juga yang nantinya akan kami gunakan untuk hoping island dan snorkling/diving di sekitar Tomia. 

KM Romeo

menuju pelabuhan Tomia dengan KM Romeo

Pulau Tomia merupakan pulau hasil pengangkatan dasar laut ribuan tahun yang lalu sehingga tak heran kalau pulau ini terkesan tandus dan kaya akan bebatuan kapur.  Konon kabarnya penamaan pulau ini berawal dari sebutan pelayar Binongko yang melihat ada manusia di bukit Tomia, yang menurut bahasa setempat To = ada dan Mia = orang/manusia. Dan penamaan inilah yang dipakai dan dikenal hingga sekarang. Sebagian besar pendduduk tomia tinggal di pesisir dan bermata pencaharian sebagai nelayan.

 perairan di pelabuhan Tomia yang sangat jernih

suasana pelabuhan Tomia
Sesampainya di pelabuhan Tomia, kami bergegas untuk ke penginapan tak jauh dari pelabuhan yg berjarak sekitar 5 menit dengan berjalan kaki. Meskipun penginapan itu dari luar terlihat kurang meyakinkan, tetapi begitu masuk ke dalam kesan itu hilang seketika. Kamarnya cukup besar untuk di tempati dua orang, terdiri dari tempat tidur, TV, AC, dan yang paling penting, bersih ! Setelah istirahat sejenak, men-jama solat, dan makan siang di penginapan dengan menu, tentu saja, ikan !  sekitar pukul 2 siang perjalan pun dilanjutkan untuk mengeksplorasi pulau Tomia dengan menggunakan pete-pete, sebutan untuk angkot bagi kebanyakan masyarakat Indonesia timur, yang sudah di carter.

Gowa Te'wali

Objek pertama yg kami kunjungi adalah Goa Te'wali Setelah perjalanan kurang lebih tiga perempat jam melalui jalanan setapak  berbatu yg semakin menyempit, pete pete yang kami tumpangi akahirnya tiba di Goa Te'wali. 

pintu masuk GoaTe'wali

air yang jernih terlihat di dasar Goa Te'wali

 
 suasana sekitar Goa Te'wali

Goa yang menjorok ke bawah sekitar 8 meter ini, berujung pada sebuah kolam air yang sangat jernih. Tanpa menunggu lebih lama  kami langsung nyebur ke dalam kolam air tersebut. Kesegaran pun langsung menyergap tubuh yang sejak sedari tadi terpapar udara Tomia yang panas. Setelah kurang lebih setengah jam berenang renang dan menikmati kesegaran kolam air di goa Te'wali perjalananpun di lanjutkan ke Benteng Patuha.

Benteng Patuha

Benteng yang terletak sekitar 3 km dari kelurahan Waha tepatnya di desa Kollo Patua ini didirikan sekitar abad ke-18. Dulunya merupakan wilayah otonom yang masih di bawah kekuasaan kesultanan Buton. Benteng yg didirikan pada ketinggian 100 meter di atas permukaan laut ini  di bangun untuk mengawasi dan mempertahankan wilayah pemerintahan dari serangan bajak laut, seperti layaknya benteng Wolio di Bau Bau. 

  
menuju ke puncak Benteng Patuha

Sama halnya dengan benteng Wolio, benteng seluas hampir satu setengah lapangan bola ini di bangun oleh batuan pegunungan dan batu koral. Bedanya, bangunan benteng ini sudah tidak ditinggali lagi dan tidak terawat sehingga tampak beberapa batuan yang menyusun bangunan benteng sudah mulai rapuh di sana sini. 

 
 suasana di puncak benteng Patuha

Dibagian pojok benteng yang menghadap ke laut banda terdapat sebuah makam yang diyakini makam orang nomor satu kala itu. Di dekatnya masih terlihat sisa sisa sebuah meriam yang di pakai untuk melindungi benteng.

pemandangan dari puncak benteng Patuha 

Setelah puas mengelilingi benteng dan berfoto foto selama kurang lebih satu jam,  pete pete yang kami tumpangi berjalan meninggalkan benteng, meninggalkan kemegahan Patuha di masa lalu. Destinasi berikutnya adalah menunggu sunset di Bukit Tomia.

Bukit Tomia

Sesampainya di bukit tomia, yang terucap hanya kata "Wow!". Bukit Tomia di tutupi oleh padang savana yang sangat indah sejauh mata memandang. Suasannya benar benar membuat kita lupa kalau masih berada di kepulauan Nusantara. Hal inilah yang mendorong beberapa dari kami melompat dari pete-pete sebelum pete-pete itu sampai di tempat pemberhentiannya, karena sudah tidak sabar untuk menjejak tanah di savana yg mulai kuning keemasan tersapu sinar matahari sore. Saking bersemangatnya untuk mengabadikan pemandangan yang indah di bukit ini, filter CPL yang menempel di lensa  kamera sempat rusak karena tertarik tidak sengaja dari tempatnya dan tidak bisa digunakan saat itu.

bukit Tomia menjelang sunset

 
 
 
 
 
 bukit Tomia ketika sunset
 
Di atas bukit ini, kami dapat melihat perairan Tomia dan pulau pulau disekitarnya. Hangatnya sinar mentari sore dan angin  sepoi sepoi semakin menambah kesan hipnotis di bukit itu. Sebagian besar waktu di bukit ini dihabiskan untuk mengabadikan keindahan padang savana dan langitnya yang berubah merah menjelang matahari terbenam. Setelah matahari tenggelam sempurna di ujung bukit, kami pun bergegas kembali ke penginapan.

Sekitar pukul setengah tujuh malam kami pun tiba kembali di penginapan di desa waha. Listrik malam itu sudah kembali menyala setelah padam dari pukul dua siang tadi. Listrik di pulau ini memang menyala dari jam lima sore samapai sekitar tengah hari, untuk kemudian dipadamkan sampai jam 5 sore.  Setelah menyantap  makan malam dan memperbaiki filter CPL yang sempat rusak di bukit Tomia  kami pun beristirahat, mengumpulkan kembali tenaga untuk perjalanan esok hari.

0 comments:

Copyright © 2008 - My Lo(v/n)ely Journey - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template