Photosop for Photography


Beberapa hari yang lalu saya meyempatkan diri ke toko buku gramedia. Setelah melihat-lihat buku terbaru di hall utama, saya beranjak ke rak buku yang menjajakan buku komputer. Di bagian desain grafis saya tertarik dengan buku-buku untuk mengedit foto dengan adobe photoshop. Setelah membolak balik halaman demi halaman, dari satu buku ke buku yang lain, ternyata tidak ada yang memuaskan saya. Kebanyakan berisi tutorial tutorial yang sebenarnya banyak bertebaran diinternet. Selain itu pembahasannya tidak menyeluruh, parsial, dan tidak memberikan arahan yang tepat yang bisa membuat pembacanya dapat menggaplikasikan tutorial tersebut pada kasus yang lainnya.

Dilatar belakangi hal tersebut, rasanya saya ingin berbagi pengalaman saya dalam mengedit hasil foto dimulai dari basic tools photoshop yang biasa digunakan untuk memperkuat kesan sebuah foto, mempertajam foto, mempercantik skin tones, menggunakan masking, membuat foto hdr dari satu file foto, membuat vigneting efek pada foto, sampai (mungkin) digital imaging untuk memanipulasi sebuah foto seperti pada foto di atas. Dengan menguasai tool-tool standard yang biasa digunakan dalam mengedit foto tersebut pembaca dapat dengan mudah mengedit fotonya sesuai keinginan tanpa perlu lagi dibingungkan oleh banyaknya tool di photoshop dan juga tanpa perlu membeli seabreg buku tutorial photoshop. Dengan kata lain, ketika melihat sebuah foto yang indah, dengan instingnya ia dapat menebak tool photoshop apa saja yang digunakan untuk menghasilkan foto tersebut. Tutorial ini saya tujukan untuk para pemula dan yang "merasa" pemula, jadi bagi yang sudah jago silahkan menambahkan atau mengoreksinya :) .

Sebenarnya saya sudah pernah menulis tentang cara memberi dimensi pada sebuah foto di blog ini sebelumnya, namun tidak saya jabarkan secara detil step by stepnya. Untuk tutorial yang ini insya Allah, kalau tidak malas :p, akan saya gambarkan step by stepnya, dan akan saya buat tulisan bersambung.

Sebagai pembuka, ada beberapa tools dalam photoshop yang biasa digunakan untuk meng-enhance sebuah foto, diantaranya :

- Untuk menguatkan gambar dan warna kita bisa menggunakan level, brighnest, contrast dan curve (bisa di akses di image>adjusment>...)
- Untuk mengedit dan mempercantik warna atau skin tones bisa menggunakan color balance, hue/saturation, selective color, etc (bisa di akses di image>adjusment>...).
- Untuk mempertajam gambar bisa menggunakan highpass filter( Filter > Other>High Pass..) dan mode layer Linear Light
- Untuk membuat gambar Black & White (BW) bisa menggunakan Desature (Image>Adjusment>Desature) atau menggunakan chanel mixer (Image>Adjusment> Chanel Mixer) atau menggunakan seleksi chanel RGB.
- Untuk membuat efek gosong seperti yang saya pakai pada tulisan memberi dimensi pada sebuah foto bisa menggunakan burn dan dodge tools pada palete tools.
- Untuk membuat evek vignete pada foto bisa menggunakan lghting efek ( Filter > Render > Lighting Effect) dan layer mask atau menggunakan burn and dodge tools.
- dan lain sebagainya.

Semua tutorial dengan menggunakan tools-tools diatas akan saya paparkan satu demi satu pada tulisan selanjutnya, insya Allah.

Membuat Video dengan Canon EOS 1000D dan 450D

Bermula dari obrolan di fotografer.net mengenai pertanyaan tentang ada atau tidaknya video di Canon EOS 1000D yang jelas jelas tidak memiliki fitur untuk merekam video maka timbul pertanyaan bagaimana caranya untuk mengakali supaya kamera dslr entry level Canon ini dapat digunakan sebagai video recorder. Seperti telah diketahui, fitur untuk video recorder pertama kali muncul pada Canon EOS 500D yang kemudian disusul oleh versi versi setelahnya seperti Canon EOS 7D. Dari forum tersebut, usut punya usut, ternyata memang ada cara untuk merekam video dengan menggunakan canon EOS 1000D . Hal ini tentu saja sangat menggembirakan bagi para pemakai Canon EOS 1000D yang belum "memiliki kesempatan" untuk upgrade kamera ke Canon EOS 500D atau setelahnya.

Berterimakasihlah kepada laki-laki Rusia, Alexey Chernov, yang telah mengembangkan software yang memungkinkan kita untuk merekam video dengan Canon EOS 1000D. Bahkan tidak hanya untuk EOS 1000D saja akan tetapi semua versi Canon EOS yang memiliki fitur live view dapat digunakan sebagai video recorder. Dengan kata lain kita dapat menggunakan Canon EOS 450D, Canon EOS 1000D, Canon 40D, Canon 50D, Canon 5D Mark II dan Canon 1Ds Mark III sebagai video recorder. Prosesnya mirip dengan proses merekam video dari webcam. Dalam hal ini video merupakan kumpulan foto frame by frame yg dirangkai menjadi satu tanpa menggunakan metode kompresi dalam prosesnya sehingga ukuran output file *.avi nya bisa menjadi sangat besar.

Caranya mudah saja, cukup download softwarenya di sini (bahasa rusia) atau kalau ingin terjemahannya di sini. Pilih versi 0.0.5 seperti pada gambar di bawah ini,



Instal di PC atau Laptop, setelah itu hubungkan kamera via USB dan anda siap untuk mengcapture video dari kamera melalui software yg terinstal di PC atau laptop. Untuk instruksi lebih lengkapnya bisa di baca di sini.

Dan inilah contoh video dengan menggunakan canon EOS 1000D karya Stipe Marinovic.


Sedangkan video dibawah ini merupakan contoh video dengan menggunakan kamera Canon EOS 450D atau Kiss X2 karya Mr Nico,


Selamat bersenang-senang :)

Gift From Exposure Magz

Gara gara mengirimkan foto buat rubrik lens review pada exposure magazine jadi dapet kaos deh :D. Awalnya saya ga tau kalau jadi kontributor bakalan dapet '"kenang-kenangan", sudah bisa masuk majalahnya aja sudah beruntung., tapi tiba tiba dapet email dari exposure yang nanyain alamat buat pengiriman gift. Yah.. semoga lain kali gak hanya dapet kaos tapi kamera DSLR sekalian...hehehe (ngarep mode : ON) . Thank Exposure :)


In memorian my GrandMa

Just remembering my GrandMa (alm). Published in Exposure Magazine no.18 , January 2010.. in lens review ...




Greatest Tachyon

Introducing my digital photoworks at Tumblr...



Aku dan Ibu

Potret kesederhanaan dan cinta kasih seorang ibu di cagar alam Pangandaran ....
silahkan bercermin...



Canon EOS 450D | EFS 55-250 mm/f 3.5-5.6

Pantai Pangandaran

Autis Hunting At Wisata Malam Kota Tua Jakarta

Minggu, 11 Oktober 2009. Waktu menunjukkan pukul 17.00 sore. Entah mengapa keinginan untuk pergi hunting foto ke Kota Tua Jakarta begitu besar. Padahal biasanya waktu hunting ke kota tua adalah pagi hari antara pukul 6 - 9 pagi. Tak ada yang istimewa sore itu. Langitpun serasa datar tak berwarna. Semilir angin dingin mengiring awan mendung. Secara kasat mata, cemistry sore itu tak terlalu menarik buat hunting foto. Tapi berdasarkan pengalaman, mengikuti insting adalah salah satu jalan yg terbaik. Dengan harapan akan ada sesuatu menarik ketika diperjalanan atau ketika sampai di tujuan kelak. Setiap perjalanan selalu mengandung hikmah yang bisa dipetik.

Akhirnya, dengan mengendarai busway, sampai juga saya di kota tua. Waktu menunjukkan pukul 17.30 sore. Semburat cahaya jingga sudah mulai muncul di atap gedung-gedung tua disekitar Museum Fatahillah. Tak terlalu kentara memang.

Tadinya saya mengira situasi di kota tua pada sore hari akan lengang, sepi. Tapi ternyata saya salah. Ketika sampai di pelataran lapangan Museum Fatahillah, banyak sekali manusia berkumpul disana layaknya pasar kaget. Lelaki perempuan, tua muda, kaya miskin. Ada yang sekedar bercengkrama, melihat lihat, atau berfoto ria disekitar lokasi kota tua. Di beberapa sudut lapangan terlihat beberapa pedagang yg sedang menggelar dagangan beserta aksinya, dari mulai tukang obat sampai tukang sulap keliling. Sementara di sisi-sisi lainnya roda-roda para pedagang makanan dan minuman berjejer rapi mengapit Cafe Batavia yg ada di sudut lapangan. Saya baru mengerti situasi ini ketika melihat salah satu spanduk di pinggir lapangan Museum Fatahillah bertuliskan "Area Wisata Malam Kota Tua". Wow ternyata sekarang ada wisata malam di kota tua. Pantas ramai sekali.


Melihat situasi yang terlalu ramai dan tidak terlalu bersahabat untuk mengambil foto dengan komposisi yang bagus bahkan untuk sekedar candid karena suasana langit yang sudah mulai gelap, akhirnya saya mencoba meraba-raba memotret Museum fatahillah dengan mengabaikan detil di bawahnya untuk mengurangi kesan semrawut karena banyaknya orang. Tanpa tripod, berarti saya harus sedikit menahan nafas untuk agar foto tidak blur.


Museum Fatahillah Menjelang Senja

Setelah beberapa jepretan, adzan maghrib mulai terdengar berkumandang. Langitpun semakin kelam. Lampu-lampu di sekitar Museum fatahillah mulai dinyalakan. Suasana temaram. Ketika langit mulai benar-benar gelap kilau bangunan yang memantulkan cahaya lampu terlihat elok romantis. Pada saat itu saya baru mengerti, INILAH YANG SAYA CARI. Setelah kembali ke lorong yang menuju halte busway untuk menunaikan shalat maghrib, karena tidak menemukan mushala atau masjid yang lebih dekat, saya kembali ke area kota tua untuk mengambil foto night shot. Akhirnya kesampaian juga untuk bisa mengambil foto night shot setelah sekian lama ingin mencoba, di kota tua pulak :).

Dengan berbekal gorillapod setinggi 30 cm dan live viewnya EOS 450D, jadilah saya mencoba ilmu Slow Speed yang pernah saya lihat di beberapa galerry foto online. Awalnya saya dapat melihat dengan cukup jelas gambar objek yang akan di foto pada live view LCD kamera, tapi semakin malam dan untuk beberapa tempat yang kurang tersentuh penerangan lampu, susah sekali untuk melihat melalui live view, hanya bisa meraba-raba. Jepret, lihat hasil, ubah posisi kamera, jepret, lihat hasil.. dan begitu seterusnya, sampai saya mendapatkan foto yang saya inginkan.

Ada banyak objek yang bisa di foto di area wisata malam kota tua, dari mulai gedung gedung tua, aktifitas orang orang di sekitar kota tua, kafe batavia yang bertabur cahaya lampu temaram, ataupun jejeran sepeda tua yg besi tuanya berkilauan memantulkan cahaya lampu.

Suasana Di Sekitar Kota Tua

Kafe Batavia yang Bertabur Cahaya

Gedung Tua di sekitar Kota Tua

Salah Satu Pohon Di Lapangan Museum Fatahillah

Jejeran Sepeda Tua Yang Disewakan


Copyright © 2008 - My Lo(v/n)ely Journey - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template