STRUGLE


“Nothing is given to man on earth - struggle is built into the nature of life, and conflict is possible - the hero is the man who lets no obstacle prevent him from pursuing the values he has chosen.”
~~ Andrew Bernstein ~~




“But there is suffering in life, and there are defeats. No one can avoid them. But it's better to lose some of the battles in the struggles for your dreams than to be defeated without ever knowing what you're fighting for.”
~~ Paulo Coelho ~~




“Strength does not come from winning. Your struggles develop your strengths. When you go through hardships and decide not to surrender, that is strength.”
~~ Arnold Schwarzenegger ~~




“Life has meaning only in the struggle. Triumph or defeat is in the hands of the Gods. So let us celebrate the struggle!”
~~ Swami Sivananda ~~




“Whatever the struggle, continue the climb. It may be only one step to the summit.”
~~ Diane Westlake ~~




“Success is sweet and sweeter if long delayed and gotten through many struggles and defeats.”
~~ Amos Bronson Alcott ~~




“Opportunity follows struggle. It follows effort. It follows hard work. It doesn't come before.”
~~ Shelby Steele ~~




Unfortunately this earth is not. . . a fairy-land, but a struggle for life, perfectly natural and therefore extremely harsh.
~~Author: Martin Bormann ~~




" When bad men combine, the good must associate; else they will fall one by one, an unpitied sacrifice in a contemptible struggle."
~~ Edmund Burke ~~




" He who would live must fight, he who will not
fight in this world where eternal struggle is
the law of life, has not the right to exist.? "
~~ Victor ~~




“The life of man is a struggle on earth. But without a cross, without a struggle, we get nowhere. The victory will be ours if we continue our efforts courageously, even when at times they appear futile.”
~~ faustina37 Boniface Wimmer ~~




“I have had to fight like hell and fighting like hell has made me what I am.”
~~ allthatjazz13 John Arbuthnot Fisher ~~




“To have striven, to have made the effort, to have been true to certain ideals - this alone is worth the struggle.”
~~ William Penn~~




“Once all struggle is grasped, miracles are possible.”
~~ Mao Tse-Tung ~~



taken from: GurlGzup mailinglist

Mimpi Mimpi Si Anak Belitong

Sabtu itu, adik saya mengeluh tentang hardisk komputernya yang overload dan menimbulkan pop-up imut di sebelah bawah-kanan layar monitor bertuliskan, "low disk space". Sebagai kakak yang baik, ramah, rendah hati, dan tidak sombong ( serta gemar menabung tentu saja), saya hanya berkata lirih plus cool gaya wapres republik mimpi, "don't wory brother, just buy a new drive !" Akhirnya siang itu kami bergegas pergi ke pusat komputer terbesar se Bandung Raya, Bandung Electronic City (BEC) untuk membeli seperangkat hardisk baru - dibayar tunai. Tapi sebelum ke BEC, ibu saya tercinta minta dibelikan kamus bahasa Arab-Indonesia di Palasari. Akhirnya kami merubah haluan ke Palasari terlebih dahulu. Di palasari kami langsung menuju toko buku langganan kami, Bandung Book Corner (BBC), selain jumlah judul bukunya yang lengkap dan banyak serta di jamin original (pendukung HAKI cuy), hampir seperti Gramedia, tiap buku di kenakan diskon sebesar 20-30 % bahkan beberapa judul ada yang diobral setengah harga. Setelah masuk ke toko buku, ternyata yang di beli bukan hanya kamus bahasa Arab-Indonesia titipan ibuku saja, adikku membeli setumpuk buku, sayapun demikian. Dan diantara buku buku yang saya beli ada tiga buku yang mengubah segalanya, mengubah tujuan-tujuan saya, yang mengubah perjalanan hidup dan rencana hari itu dan selanjutnya, tiga buku itu masing-masing berjudul, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor, tiga novel tetralogi karangan seorang kuli PT Telkom yang bernama Andrea Hirata. Novel yang katanya kebanyakan orang mampu mengubah segalanya, mampu mengubah pandangan hidup seseorang, novel yang memberi inspirasi tentang arti hidup sebenarnya, tak heran jika ke tiga buku ini masuk kategori buku best seller Indonesia. Dan memang demikian adanya, ketiga novel itu seketika juga mengubah segalanya, mengubah tujuan-tujuan sebelumnya, bayangkan saja karena membeli ketiga novel itu uang yang tadinya untuk membeli hardisk tidak mencukupi lagi, akhirnya kami tidak jadi membeli hardisk baru, karena novel itu juga kami jadi tidak jadi ke tujuan semula, BEC, dan karena novel itu juga adik saya terpaksa menjadi seorang juru sortir penyabar untuk mendelet file-file yang tidak perlu di hardisk yang lama untuk memperoleh space yang memadai. Benar benar novel yang mengubah segalanya, pun ketika novel itu belum dibaca sedikitpun.Luar binasa!

Sebenarnya saya tidak suka membaca makhluk yang namanya "novel". Saya menganggapnya sebagai pekerjaan orang-orang yang tak ada kerjaan sama halnya seperti orang menonton sinetron atau yang lebih dikenal dengan setantron. Saya tak habis pikir mengapa orang-orang mau-maunya membaca ratusan bahkan ribuan halaman yang berisi kisah-kisah hampa, yang tidak benar-benar ada di alam ini. Saya tak habis pikir, mengapa orang orang mau di bodohi dan di bohongi sama si penulis novel sampai tersedu sedan (terima kasih Chairil Anwar). Kenapa orang mau-maunya menangis hanya untuk sebuah cerita bohong, kosong, dan tidak pernah terjadi didunia ini, cerita yang hanya ada di benak dan imajinasi si penulis novel. Apa untungnya. Bukankah masih banyak bahan bacaan yang bermanfaat. Di sana ada buku tebal yang berjudul Kalkulus yang ketika kuliah dulu kadang saya jadikan ganjal kepala ketika tiduran di kosan, ada buku Java2 nya Ivon Horton, ada buku Networkingnya Cisco, ada buku-buku agama yang dapat menjelaskan Halal-Haram dan dapat menyelamatkan hidup seseorang dunia dan akhirat (bagi yang percaya). Atau kalaupun harus membaca tentang kisah seseorang, mengapa tidak membaca saja buku Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, atau Memoarnya Bung Hatta yang jelas-jelas adalah kisah nyata, yang kejadiannya benar-benar terjadi, dan ada. Kenapa kita harus buang-buang waktu dengan cerita-cerita hayal dari novel-novel itu. Itu pandanganku terhadap novel. Terserah orang bilang kalau saya tak punya cita rasa sastra, yang pasti nilai bahasa indonesia saya tak pernah kurang dari 8 dari sd sampai SMA, dan mendapat nilai A ketika kuliah, saya senang membuat puisi,cerpen,dan beberapa cerpen saya bahkan pernah dimuat dimedia masa. Masalahnya bukan tentang sastra nya tetapi tentang prioritas, prioritas membaca bacaan yang bermutu, "waktu yang kita miliki jauh lebih sedikit daripada amanah yang harus ditunaikan !", begitu ucap seorang tokoh gerakan Islam dari Mesir, Hasan Al Bana. Tapi terkadang saya juga tertarik untuk membacanya hanya karena penasaran dengan embel-embel best sellernya, dan memiliki nilai moral yang tinggi seperti Ayat-ayat cintanya Kang Abik atau berdasarkan dari kisah nyata seperti novel-novelnya Torey Hayden atau karena ada nilai lebih dari pada sekedar bahan bacaan penghibur hati, seperti Negara Kelima dan Rahasia Meede nya Es Ito yang mengandung paparan History yang mengagumkan. Untuk novel-novel yang lainnya cukuplah saya menonton yang sudah difilmkannya saja, cukup dengan waktu maksimal 2 jam dengan menonton filmnya, kita tidak harus menyisihkan berjam-jam kadang berhari-hari untuk membaca novelnya. Novel tetra logi Laskar pelangi ini tarmasuk yang saya baca karena embel-embel best sellernya, nilai moral yang dikandungnya, dan karena berdasarkan kisah nyata penulisnya. Saya penasaran karena hampir semua orang membicarakannya, saya buka internet banyak orang yang mendiskusikannya, di gramedia atau toko-toko buku novel ini di pampang di deretan terdepan, maka dengan mantap saya meraih ketiga novel tetralogi ini (novel yang keempat berjudul Maryamah Karpov konon akan terbit sekitar bulan juli tahun ini) dan membawanya pulang - tentu saja setelah membayarnya.

Membaca novel pertama, Laskar Pelangi, awalnya saya dibuat bosan oleh penuturan sang penulis. Novelnya hanya bercerita tentang kondisi alam kampung halaman sang penulis yang bernama Belitong, tak ada kisah, hanya deskripsi dengan taburan istilah-istilah antah berantah yang tidak saya pahami, tentang pohon filicium yang tak dapat saya bayangkan seperti apa bentuknya, tentang nama mebel dan makanan orang orang kaya PN Timah yang tak terpikir seperti apa rupanya, sungguh menjemukan. Dalam benak ini saya menduga bahwa si penulis hanyalah orang yang tebar sensasi dengan istilah istilah asingnya, bahkan kalau misalkan si penulis disuruh menuliskan nama sejenis tumbuhan yang tumbuh di sawah dan menjadi makanan pokok rakyat indonesia, penulis akan menggunakan istilah oryza sativa alih-alih padi yang mudah dipahami. Bahkan untuk menuliskan nama pulau tempat hidup sang penulis, ia lebih senang mengejanya dengan Belitong alih-alih Belitung yang lebih dikenal orang. Saya baru sadar kalau Belitong yang penulis maksudkan adalah pulau Belitung tetangganya pulau Bangka setelah saya membaca 400 halaman novel tersebut, itupun karena penulis menyebut-nyebut pulau bangka sebagai tetangga pulaunya. Sungguh menjemukan. Malas saya membacanya. Akan tetapi didorong oleh rasa penasaran, dimana sebenarnya menariknya novel ini sampai orang-orang rela membuang waktunya untuk mendiskusikan novel metafora ini, akhirnya dengan semangat 45 (membaca dari jam 4 sampai jam 5 tiap sore) saya teruskan membacanya, dan terungkaplah keindahan-keindahan dari novelnya anak Belitong ini. Keindahan tentang persahabatan 10 orang anak manusia yang bernama Ikal(Andrea), Lintang, Mahar, Trapani, A Kiong, Syahdan, Harun , Sarah, Kucai, dan Samson yang menamakan diri mereka Laskar Pelangi dan bertambah menjadi sebelas diakhir cerita dengan kehadiran gadis tomboy, anak orang kaya PN Timah, yang bernama Flo. Keindahan tentang dedikasi seorang guru yang bernama Ibu Muslimah di sebuah sekolah yang nyaris tutup karena jumlah muridnya hanya sepuluh tempat anggota laskar pelangi menuntut ilmu. Keindahan tentang perjuangan anak kampung yang sangat cerdas bernama Lintang yang harus menempuh perjalanan 80 km plus melewati sungai yang dihuni banyak buaya dengan sepeda bututnya untuk dapat bersekolah, dan akhirnya sekolahnya putus ditengah jalan bukan karena perjalanan yang merintanginya akan tetapi karena ayahnya meninggal sedangkan dia adalah anak sulung yang harus menjadi tulang punggung keluarga besarnya. Keindahan kreativitas seorang anak yang bernama Mahar yang dengan dengan ide ide kreatifnya mampu mengangkat derajat sekolahnya, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai sekolah kampung yang biasa. Keindahan tentang cinta antara si Ikal dan gadis tionghoa berjari indah yang akhirnya harus kandas karena sang gadis harus merantau ke Ibu kota Jakarta.

Membaca novel ini, kita akan dibawa hanyut menyusuri lekuk-lekuk pulau Belitong sebagai tempat kejadian perkara, menyelami kondisi sosial dan kehidupan orang-orang didalamnya, memahami hierarky sosial penduduknya. Kemudian penulis akan membawa kita menyusuri lorong lorong sd muhammadiyah, mengajak berkenalan dengan seorang guru penuh dedikasi yang bernama ibu muslimah, mengajak berpetualang dengan anggota Laskar Pelangi yang masing masing memiliki karakter yang unik, serta ikut merasakan letupan letupan perasaan cinta yang dialami penulis terhadap gadis tionghoa berjari indah. Akhirnya penulis akan membawa kita melesat jauh ke masa depan, 12 tahun setelah mereka lulus dari sd dan smp muhammadiyah untuk menyapa kabar anggota laskar pelangi setelah 12 tahun berlalu. Sungguh kisah persahabatan yang memukau ditengah kondisi sosial yang seadanya.

Pada bukunya yang kedua, Sang Pemimpi, gaya pemaparan sang penulis terasa lebih renyah. Alunan kisah per bab nya lebih pendek dan memukau meskipun terkadang antara satu bab dengan bab lainnya tidak berhubungan secara langsung. Mungkin hal ini menjadi salah satu keunikan dari novelnya Andrea, tiap bab dari novelnya adalah suatu cerita pendek yang sangat menarik.

Jika pada buku pertamanya, Laskar Pelangi, mengisahkan tentang kehidupan penulis dan kawan-kawannya semasa SD hingga SMP, maka pada bukunya yang kedua ini penulis mengajak kita berkenalan dengan 2 kawan barunya di SMA yang bernama Arai dan Jimbron. Arai adalah saudara sepupunya yang hidup sebatang kara yang kemudian diangkat menjadi saudara angkatnya, ibunya telah lama meninggal sedangkan ayahnya baru saja berpulang ke rahmatullah. Arai meskipun nakal adalah anak yang cerdas ia senantiasa mendapat peringkat lima besar di SMA nya, setia kawan, hal ini dibuktikan dengan kerja keras yang dilakukannya di peternakan kuda hanya agar bisa meminjam kuda itu untuk diperlihatkan kepada temannya, Jimron, yang tergila-gila akan kuda. Arai juga kaya akan ide-ide kreatif dan jiwa sosial yang terkadang tidak bisa diduga, hal ini terlihat ketika ia memecahkan celengannya dan membeli sekarung terigu dan gula untuk membantu keluarga Maryamah Karpov agar bisa hidup dengan berjualan kue. Disisi lain Arai juga memiliki jiwa optimis untuk mencapai mimpi-mimpinya dan terus menerus mendorong penulis dan pembaca untuk tidak berhenti bermimpi, dan mungkin ini yang melatar belakangi judul dari novel kedua ini, Sang Pemimpi . Sahabat keduanya adalah Jimron, meskipun tidak secerdas Arai dan Ikal dan terkadang gagap kalau berbicara, tetapi ia adalah sahabat ang sangat setia kawan, ini terlihat ketika Arai dan Ikal hendak merantau ke Jakarta, Jimron memberikan 2 celengan kudanya yang selalu ia isi sejak pertama kali mendapatkannya untuk masing masing sahabatnya itu. Jimron memang sangat tergila-gila kepada segala hal yang berbau kuda, konon karena ia berfikir bahwa dengan mengendarai kuda seperti yang ia saksikan di tv ia akan dapat menyelamatkan nyawa ayahnya yang tiba-tiba terserang penyakit jantung ketika membonceng dirinya, dan tidak dapat ia selamatkan.

Pada buku keduanya ini, pusat cerita memang berputar disekitar persahabatan tiga anak manusia tersebut, tepatnya pada tokoh yang bernama Arai. Seorang pemuda yang memegang teguh mimpi-mimpinya dan akhirnya mampu merealisasikan mimpinya itu yang dipaparkan pada buku ketiganya, Edensor.

Pada buku ketignya, penulis mengisahkan tentang perjalanan hidupnya di Sorbone, Prancis, ketika ia mengambil beasiswa S2 untuk kuliah Finance nya bersama sahabat sekaligus saudara angkatnya, Arai yang mengambil Microbiologi. Paris adalah salah satu kota yang menjadi mimpi kedua orang ini ketika SMA dulu, bahkan dalam acara Talk Show Kick Andi di Metro TV penulis mengatakan bahwa Paris juga adalah mimpinya Lintang, anggota Laskar Pelangi, sahabat masa kecil yang memberinya inspirasi dan semangat untuk menggapai pendidikan yang tinggi. gurunya memberikan gambar kota ini dan memberi semangat kepada mereka agar suatu ketika mereka akan mengunjungi tempat tersebut. Selain itu sang guru juga berpesan agar mereka juga mengelilingi Eropa sampai Afrika. Dulu kedua hal ini hanya menjadi mimpi bagi keduanya tetapi beasiswa yang mereka terima akhirnya benar-benar mewujudkan mimpi mimpi tersebut karena ketika liburan musim panas keduanya benar-benar merealisasikan mimpinya itu, mengelilingi Eropa sampai ke Afrika melalui jalur darat dengan bermodal dengkul sebagai bagpacker sebutan bagi para pengelana yang berpetulang hanya dengan ransel dan kantung tidurnya. Bahkan ide gila kedua orang ini akhirnya memprovokasi teman-teman kuiahnya untuk ikut berkeliling eropa-Afrika dengan menjadi bagpacker dan membiayai perjalanannya dengan menjadi para pengamen jalanan, siapa yang paling banyak menyinggahi negar-negara di Eropa-Afrika, merekalah yang memenangkan pertaruhan itu. Dan pada akhirnya hanya Ikal dan Arai lah yang mampu mengelilingi Eropa sampai Afrika, dan keluar sebagai pemenang kompetisi antara teman-temannya itu. bagi Ikal sendiri perjalannannya ini, selain untuk merealisasikan mimpi dia dan guru SMA nya, ia juga ingin kembali mencari mimpi masa-masa indahnya dengan gadis Tionghoa berjari indah, A Ling, cinta pertamanya yang akhirnya harus berpisah karena sang kekasih harus merantau ke Jakarta dan kemudian tidak diketahui lagi keberadaannya. Setelah ia searching diinternet dengan key word A Ling, ia menemukan nama-nama itu di beberapa negara di eropa, dan kesanalah Ikal melakukan perjalannanya sebagai bagpacker. Meskipun akhirnya sampai ke Afrika, ia tidak menemukan gadis yang dicarinya. Tapi pada akhir cerita, ketika ia harus pindah dari Prancis ke London agar bisa terus berhubungan dengan pembimbing tesisnya, seara tidak sengaja ia berhasil menemukan tempat yang senantiasa diimpi-impikannya, Edensor. Di buku pertamanya, Laskar Pelangi, diceritakan bahwa Edensor adalah nama sebuah tempat yang menjadi setting dari sebuah novel yang diberikan oleh A Ling kepada Ikal ketika A Ling meninggalkannya untuk merantau ke Jakarta. Dan selanjutnya ketika Ikal merasa rindu kepada A Ling atau ketika ia patah semangat, ia melimpahkan kerinduannya kepada tempat yang bernama Edensor tersebut. Dan mimpi-mimpi anak belitong itu akhirnya terwujud sudah.

Melali* Ke Bali

Setelah seharian mengerjakan proyek di Chevron, Gunung Salak dengan kondisi alamnya yang masih sangat alami bahkan terkesan liar karena kadang masih ditemui macan hilir mudik, secara terletak di lereng gunung salak yang sekaligus tempat perusahaan air minum raksasa Aqua mendulang sumber mata air minumnya. Disambung dengan 4 hari -hampir- empat malam ngerjain proyek di kawasan industri Cikarang yang gersang, tapi kawasan industri MM2100 nya keren abis bos, kayak di luar negeri. Akhirnya, sehari setelah itu, semua keletihan ini "harus" diakhiri dengan berlibur di pulau dewata, Bali, selama 3 hari 3 malam. Semua keletihan terbayar sudah :)

Kamis 22 November 2007 perusahaan kami mengadakan Family Gathering (FamGat) tahunan di pulau dewata tepat beberapa minggu sebelum diadakannya Konfrensi internasional tentang perubahan iklim di pulau ini. Ini kedua kalinya perusahaan mengadakan FamGat di pulau seribu upacara tersebut, tetapi pertamakalinya bagi saya menginjakkan kaki di pulau yang namanya lebih terkenal daripada Indonesia itu :). Berangkat dari bandar udara Soekarno-Hatta sekitar pukul 16.07 WIB dengan menumpangi pesawat Mandala Air Class A. Terus terang ini penerbangan pertama sekaligus terbaik bagi saya. Dengan 'seat' kelas A plus pesawat yang masih tampak baru, setidaknya ketika melihat bagian dalam pesawat yang masih mulus layaknya baru keluar dari fabrikasi. Dan ternyata memang benar pesawat itu baru keluar pabriknya, dan kami adalah orang kedua yang menggunakan pesawat baru itu! Yang pertama adalah rombongan kami yang berangkat siang hari, bahkan pada saat itu sang pilot masih membuka-buka buku manual pesawat baru tersebut :)).Perjalanan Jakarta-Bali ditempuh sekitar 1.5 jam. Dari Jakarta pukul 16.07, sampai di Bali sekitar pukul 17.30 WIB atau sekitar pukul 18.30 waktu Bali karena perbedaan waktu antara jakarta-Bali sekitar satu jam. Karena perbedaan waktu ini kami sempat menikmati sunset yang indah di atas pesawat. Sesampainya di bandara I gusti ngurahrai, Bali, kami disambut oleh rangkaian bunga kemboja yang dikalungkan oleh para gadis Bali (ceile... X)) ) dari pihak Alia Travel and Tour, Tour guide yang akan memandu kami selama di Bali. Bagi masyarakat Bali bunga kamboja atau semboja merupakan bunga selamat datang yang biasanya dikalungkan di leher atau di selipkan di telinga untuk menyambut tamu, sedangkan di jakarta dan jawa bungan tersebut adalah bunga orang mati karena biasanya ditanam didaerah pekuburan. Setelah sambutan singkat itu kami langsung berangkat ke Jimbaran , tempat yang dulu menjadi sasaran peledakan bom, untuk santap malam dengan menu utama sea food. Sesampainya di Jimbaran kami disambut oleh aroma ikan bakar yang menyengat, secara hampir semua restoran di Jimbaran menyajikan menu utama seafood. Setelah mencari tempat tepat di bibir pantai seraya menikmati hembusan angin laut dan deburan ombak, tak beberapa lama kemudian satu piring besar seafood untuk setiap orang yang terdiri dari ikan, lobster, kepiting, kerang, dan lain sebagainya dihidangkan dimeja. Pertama kali mencicipi terasa nikmat, tapi karena saking banyaknya, lama-kelamaan enek juga. Akhirnya santap malam itu berakhir dengan perihnya lambung ini karena lobster. Saking semangatnya makan, saya sampai lupa bahwa akhir-akhir ini saya memiliki masalah dengan yang namanya udang-udangan, dari mulai surat udangan (undangan cing) sampai udang di Balik batu, setiap kali makan yang namanya udang lambung ini langsung melilit. Usai santap malam kami menuju Sahid hotel, hotel bintang 4 yang letaknya tepat di depan bibir pantai Kuta, tempat yang akan kami tinggali selama ada di Bali. Lokasinya cukup strategis, selain berhadapan langsung dengan pantai kuta, juga dekat dengan Legian (Lokasi bom Bali yang bersejarah) pusat perbelanjaan, restoran, dan tempat dugem di sekitar pantai Kuta.Sesampainya di hotel saya langsung menuju tempat tidur setelah sebelumnya mengunyah sebutir promag untuk menetlarisir pengaruh sang udang, dan berharap esok pagi sudah sehat kembali untuk menikmati perjalanan di pulau impian ini :).



pantai kuta di pagi hari

Jumat 23 November 2007, setelah sarapan pagi di hotel rencananya kami akan mengunjungi pure Besakih, pure terbesar yang ada di Bali kemudian disambung dengan mengunjungi Bird Park, taman burung yang menampung berbagai jenis burung yang ada di indonesia. Akan tetapi rencana tersebut berubah, karena kami yang sebagian umat muslim harus menunaikan shalat jumat diperjalanan, jadinya kami akan mengunjungi Bird Park terlebih dahulu yang jarak tempuhnya kira-kira 1.5 jam dari hotel kemudian disambung ke pure Besakih sekitar 60 km dari Denpasar, ditengah perjalanan ke pure Besakih kami akan melakukan shalat jumat disalah satu mesjid yang dilalui bis. Setelah melalui 1.5 jam menuju Bird Park yang kebanyakan diisi dengan tidur :p sampai juga kami di dunia burungnya orang Bali, tepat di depannya terletak rumah reptil tempat memajang berbagai jenis reptil. Begitu masuk ke Bird Park kami disambut oleh semprotan cairan anti flu burung yang disemprotkan oleh seorang petugas di pintu gerbang. Entah efektif atau hanya formalitas belaka, yang pasti petugas tersebut asal saja menyemprotkan cairan anti flu burung tersebut,padahal seharusnya cairan itu disemprotan pada dua telapak tangan dan kaki pengunjung yang masuk ke Bird Park. Begitu memasuki kawasan Bird Park yang pertama kali terlihat adalah burung nuri yang dibiarkan bebas bertengger di datang pohon kering dengan warna bulunya yang indah warna warni dan menggoda setiap orang yang masuk untuk mengambl gambarnya. Di Bird Park ini bertebaran berbagai jenis burung dari berbagai wiayah di indonesia. Beberapa burung di biarkan di alam bebas tanpa kurungan seperti burung nuri yang pertama kali dijumpai, flaminggo dan lain sebagaianya, sebagian lagi di kurung berdasarkan daerah asal si burung. Ada pengalaman menarik tentang burung flaminggo dalam kehidupan masa kecil saya, semenjak kecil saya hanya sempat melihat burung ini dari buku abjad tentang binatang, huruf "F" diwakili oleh burung Flaminggo, burung berwarna merah muda dengan kaki yang panjang dan biasanya mengangkat salah satu kakinya, sehinga ketika main tebak-tebakan tentang nama hewan yang di mulai dengan huruf F(Huruf awal yang cukup jarang dan sulit untuk nama binatang), saya selalu bisa menjawab dengan burung Flamingo! Lucunya saya belum pernah melihat secara langsung burung tersebut sampai ketika saya ada di Bird Park ini. Di tempat lain ada beberapa burung nuri dengan warnanya yang indah yang dikhususkan untuk foto bersama, ada fotografer yang dikhususkan di sana bagi orang orang yang ingin berfoto bersama dengan burung, cukup dengan membayar Rp50.000 kita bisa berfoto bersama burung dengan dan langsung mendapatkan print outnya atau disablon ke sebuah kaos. Atau kalau kita membawa kamera sendiri kita bisa berfoto dengan burung tersebut secara gratis.Sekitar jam 10 pagi diadakan atraksi burung di lapangan di lokasi Bird Park, berbagai jenis burung di tampilkan di sana dari mulai burung rangkok dengan paruhnya yang besar, burung nuri, hingga bebek yang sebenarnya termasuk jenis unggas, bukan burung. Awalnya saya mengira atraksi yang akan ditampilkan disana seperti atraksi burung yang ada di ancol, tapi ternyata tidak demikian. Burung dalam atraksi itu hanya terbang kesana kemari sesuai dengan perintah sang pawang.Bagi yang merasa lapar dan haus atau ingin membeli cindera mata dari Bird Park, tersedia restoran dan toko souvenir di dalam area Bird Park.
burung di bird park

Usai kunjungan ke Bird Park, perjalanan dilanjutkan sesuai rencana yaitu ke pure Besakih. Di tengah perjalanan, bagi kami yang sebagian umat muslim menunaikan shalat jumat di masjid yang di lalui jalur bis. Ketika sampai di masjid, waktu sudah menunjukkan pukul 12.20 waktu Bali, dan khotib jumat hampir menyudahi khutbahnya. Setelah menunaikan shalat jumat dan menjama shalat ashar perjalanan di lanjutkan kembali. Jalur yang ditempuh untuk menuju ke pure terbesar di Bali ini melalui area pegunungan yang disebut Bukit Jambul dengan pemandangan alam pegunungannya yang asri. Sesekali terlihat beberapa "ikan duyung" yang sedang mandi di sungai. Ikan duyung, itulah yang dikatakan oleh pemandu kami mengenai masyarakat Bali yang masih biasa mandi di sungai sungai tanpa sehelai kainpun, baik lelaki maupun perempuan. Sayangnya yang kami temui di jalan kebanyakan adalah "ikan duyung" laki-laki :d, malah ada diantaranya yang langsung berpose sewaktu kami tonton (hoek). Di area sekitar Bukit Jambul, kami berhenti sejenak untuk santap siang di salah satu restoran. Pemandangan dari tempat ini sangat indah, di halaman depan dan samping restoran kami dapat menatap ke sekeliling yang berupa lembah dan pegunungan Bukit Jambul.


pemandangan di area sekitar bukit jambul

Setelah santap siang yang diakhiri dengan kembungnya lambung ini kembali. Saya tidak tahu apa yang menyebabkannya, kemungkinan besar ada diantara makanan tersebut yang mengandung udang-udangan yang tidak saya sadari. Akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan membawa rasa melilit di lambung. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam kami tiba di pure Besakih. Bis yang kami tumpangi tidak bisa mengantarkan kami sampai di depan pure Besakih. Bis harus diparkir di area parkir yang jaraknya kira-kira 700 m dari pure Besakih. Perjalanan selanjutnya dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau naik ojek yang sudah "mangkal" di sekitar area parkir kendaraan. Akhirnya sebagian besar dari kami memutuskan untuk naik ojek sampai ke depan pure. Sepanjang jalan antara pelataran parkir dan pure Besakih berjejer toko-toko yang menawarkan berbagai cendramata dan kain tenun khas Bali. Setelah sampai di depan pure saya baru menyadari bahwa pure Besakih itu merupakan kompleks pure. Di dalamnya terdapat pure pure lainnya yang lebih kecil dengan namanya masin-masing, sedangkan pure Besakihnya sendiri terletak di ujung di tempat yang paling tinggi. Karena waktu itu sedang diadakan upacara di pure Besakih akhirnya kami harus puas berhenti sampai ujung tangga paling tinggi di pure itu tanpa bisa masuk ke dalam purenya. Waktu itu pure Besakih katanya sedang mengalami polemik sebagai cagar budaya. Dikatakan polemik karena secara kemegahannya pure ini memang layak di jadikan cagar budaya, akan tetapi disisi lain masyarakat Bali banyak yang menolak pengukuhan tersebut karena khawatir kalau-kalau dengan pengukuhan ini akses masyarakat Bali untuk beribadah ke pure terbesar ini jadi terbatasi. Ada satu hal yang agak mengganggu di pure ini. Banyak anak-anak yang berkeliaran di pure ini sambil membawa bunga yang kalau kita tidak hati-hati anak-anak itu akan menyelipkannya di tangan kita, dan ini berarti kita harus memberikan uang kepada mereka. Memang jumlah yang mereka minta tidak seberapa,akan tetapi jika terus menerus ada juga perasaan teranggu di hati ini. Usai berkeliling kompleks pure dan mengambil beberapa gambar dengan kamera digital rencananya kami akan langsung kembali ke Denpasar dan santap malam di Planet Hollywood. Akan tetapi karena waktu itu masih agak sore, diperjalanan kami menyempatkan diri mampir ke tempat oleh oleh jajanan khas bali, Maha Dewi, dan membeli beberapa jajanan khas Bali untuk oleh oleh ke Jakarta kelak. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Planet Hollywood untuk santap malam dengan diiringi oleh Live Music dan diakhiri dengan kembali ke hotel yang terletak tidak terlalu jauh darinya.

Esok harinya tour dilanjutkan ke pantai Tanjung Benoa, tempat berbagai macam permainan air, di Nusa Dua tempat yang sekarang di jadikan tempat UN Climate Change Conference 2007. Disana sini terlihat pembenahan yang dilakukan untuk mempersiapkan konfrensi ini, bahkan hampir semua hotel bintang 5 dan bintang 4 di Nusa Dua sudah di booking semuanya untuk keperluan konfrensi internasional itu. Sesampainya dilokasi kami langsung di suguhi daftar menu yang isinya permainan-permainan air yang tersedia, dari mulai bana boat, jetsky, flying fish, hingga diving. Secara semua permainan di disana pembayarannya ditanggung oleh kantor, dengan senang hati saya memilih untuk berdiving ria. Diving selama satu jam kala itu kalau tak salah sekitar 300 ribu perorang plus foto dan video dokumentasi. Setelah brifing dan pengenalan alat sebentar kami langsung menuju laut untuk berdiving ria. Kesan pertama berdiving "WoW!", it's my first experience !. Sesaat setelah masuk ke dalam air nafas masih tidak teratur, gelembung-gelembung oksigen keluar besar-besar. Telinga terasa sakit karena tekanan di dalam air, tapi saya segera ingat pesan sang pemandu bahwa kalau telinga terasa sakit, cukup tutp hidung dan meniup sekeras-kerasnya lewat hidung sehingga ada tekanan balik ke telinga, dan ternyata ya, it's work dude! Lama kelamaan saya sudah mulai terbiasa dan bisa menikmati keindahan bawah laut, keindahan terumbu karang, meskipun sebagian sudah rusak tapi masih dapat dinikmati, beserta seliweran hilir-mudik ikan ikan laut yang berwarna-warni. Tapi anehnya, meskipun ini pengalaman pertama, tak ada rasa takut atau was-was sedikitpun di hati ini, laut sepertinya sangat bersahabat sekali, tidak ada rasa takut tenggelam atau apapun juga padahal kemampuan berenang saya pas pasan (pas gerak-pas tenggelam, wakakak). Ada satu hal tentang diving ini yang mesti diingat oleh yang mau berdiving, Jangan berdiving jika pada hari itu akan naik pesawat! Karena, katanya, oksigen yang digunakan untuk diving itu adalah oksigen murni yang dapat mengembang bahkan pecah jika ada perbedaan tekanan. Kebayangkan kalo setelah diving kita naik pesawat terbang, bisa bisa paru-paru kita meledak diudara :p. Makanya jika kita akan berdiving ria biasanya kita ditanya terlebih dahulu apakah pada hari itu kita akan naik pesawat atau tidak.




pemandangan disekitar pantai tanjung benoa

Setelah kira kira satu jam dan setelah mengalami keram kaki di bawah laut, kami naik kembali ke permukaan. Puas sudah. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, karena masih ada sisa waktu untuk bersenang senang, saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke pulau penyu dengan perahu motor. Pulau tempat penangkaran penyu, dan beberapa hewan lainnya, pulau yang indah, jauh dari keramaian, dan menurut saya scenarynya sangat bagus untuk fotografi. Di pulau ini kita dapat berfoto dengan penyu, ular, dan beberapa hewan lainnya, cukup mengasyikan.



pemandangan pulau penyu dari kejauhan




scenary di sekitar pulau penyu


Setelah dari pulau penyu, kami kembali ke tanjung benoa untuk santap siang disana. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Joger, toko pakaian dengan pabrik kata-katanya yang tersohor, untuk berburu pakaian "jeleknya" Joger karenan kata Joger "Pakaian yang di jual adalah pakaian jelek soalnya yang bagus di pakai sendiri, tapi bagus kata saya belum tentu bagus buat anda, dan jelek buat saya belum tentu jelek buat anda". Sesampainya di joger kami disambut dengan salam khas Joger "Good Morning, Selamat Pagi!", padahal waktu itu sudah sore. Kalau anda tanyakan ke Joger tentang salam itu, Joger hanya menjawab "Dimanapun, kapanpun, mau pagi, siang, atau sore, yang namanya 'Good Morning' itu kalau di terjemahkan ya 'Selamat Pagi'!" heheu .. aya-aya wae :). Setelah berburu kaus joger kami beranjak ke Jimbaran untuk berburu sunset, sekaligus makan malam dengan seafood lagi. Tapi berhubung saya kapok dengan yang namanya sea food yang selalu ada lobsternya, untuk makan malam ini saya minta perkecualian dengan makanan non seafood. Sesampainya di Jimbaran matahari sudah hampir tenggelam, tetapi sebelum "nyungseb" beneran saya sempat mengambil beberapa potret dirinya :)).



sunset di Jimbaran


Sesudah kenyang, kami langsung kembali ke hotel dan segera tidur karena esoknya pagi-pagi sekali sekitar jam 7 pagi kami harus checkout dari hotel kemudian menuju ke pasar Sokawati, terus ke Bali Classic center (BCC), dan langsung ke bandara I Gusti Ngurahrai untuk kembali ke Jakarta.

Keesokan harinya tak ada yang benar-benar menarik selain berbelanja cindramata untuk oleh oleh, terus makan siang dan melihat pertunjukkan tari bali di BCC, plus dua buah pisau lipat saya di tahan dibandara gara-gara lupa dimasukan ke dalam koper, padahal cukup buat menyandera pilot dan para pramugarinya yang cakep :d. Dan akhirnya, last but really last, cabut dari bali dengan lautnya yang biru kembali ke Jakarta dengan polusinya :)

Selamat tinggal Bali ... Senang sekali bisa mengambil potret dirimu ...
Nice to meet you ...see you again :))



*pelesiran/jalan-jalan

Make Your Sketch

Ada beberapa teman yang bertanya kepada saya perihal gambar sketsa diri yang saya upload di friendster saya.




Bagaimana saya membuatnya? begitulah pertanyaannya. Apakah menggunakan pensil seperti yang dulu dilakukan "penggambar" jalanan di belakang gramedia Bandung, atau cukup "simsalabim" maka jadilah sketsa itu.

Dulu saya memang "agak" terampil untuk membuat sketsa wajah atau karikatur, tapi seiring dengan berjalannya waktu, karena tidak pernah di asah lagi, hilang sudah keterampilan itu, kecuali hanya sedikit yang tersisa :p. Dulu juga saya memang pernah belajar sulap, tapi tidak "simsalabim" terus "jadi".

Lalu .... "HoW?"
Gimana cara buatnya?

Seperti halnya sulap yang ternyata hanya trik semata, begitupun cara membuat sketsa tersebut, itu hanyalah trik ... trik yang di buat oleh ... Photoshop !!!

Photoshop? "how .. how ?"

Oke untuk menghilangkan rasa penasaran beberapa teman yang suka penasaran akan saya paparkan langkah demi langkah cara membuatnya. Perhatikan baik baik. Jangan berkedip. Jangan beranjak dari tempat duduk anda. Ini bukan sulap, bukan sihir.

1. Siapkan sebuah foto yang akan di jadikan sketsa. Usahakan foto berkualitas tinggi untuk mengurangi noise pada sketsa dan berbackground putih atau tanpa latar belakang . Disini saya menggunakan sebuah foto hasil karya Elisabetta Figus, anda dapat melihat hasil karyanya yang lain di http://m4rea.deviantart.com/.


2. Buka dengan photosop



3. Duplikat layer dengan cara klik kanan pada layer "Background" kemudian pilih "duplicate layer"
Kemudian buat layer hasil duplikasi tersebut menjadi grayscale dengan cara memilih pada menu bar : image>adjustment> desaturate



4. Duplikat layer yang telah dibuat grayscale seperti pada langkah ke tiga, klik kanan pada layer "Background copy" kemudian pilih "duplicate layer".
Inversi layer hasil duplikasi tersebut dengan cara memilih pada menu bar : image>adjustment> invert. Hasilnya akan seperti film foto dari kamera analog.



5. Ubah mode layer yang baru diinversi tadi menjadi Color Dodge (Lihat gambar)
Setelah mode layer tersebut diubah menjadi "Color Dodge", kamu mungkin akan langsung nyeletuk, "Lho gambarnya kemana?" karena tampilan dari layer tersebut akan menjadi putih semua . No problemo bro, memang seharusnya seperti itu :) (Untuk beberapa foto yang kualitasnnya jelek atau komposisinya terlalu kasar atau rame, layer tidak benar-benar putih).



6. Pilih pada menu bar : Filter > Blur > gaussian Blur.
Maka akan muncul dialog box dari Gaussian Blur. Geser properti radiusnya perlahan-lahan sampai terlihat garis-garis dasar yang akan kita jadikan dasar dari sketsa. Di sini saya mengambil nilai 4.2 pixel. Secara sketsa, hasil yang kita peroleh pada tahap ini sudah bisa dikatakan sketsa :).




7. Untuk memperhalus hasil sketsa yang kita buat, gunakan burn tool pada toolbar (lihat gambar). Terus gosokin deh di bagian-bagian yang mau diperhalus. Ini adalah bagian paling sulit, karena kita hanya mengandalkan perasaan dalam pengerjaannya. intinya "Use your feeling".





8. Setelah berpuluh puluh menit atau berjam-jam yang melelahkan :p , jika telaten dan feelingmu bagus maka hasil sketsa akan seperti ini, "VIOLA !!!" :)




keren kan ? just like the real sketch. Jadi ngga usah lagi pergi ke belakang gramedia Bandung, and nyuruh si pembuat sketsa untuk bikinin kita sketsa diri kita. Just make your sketch with your own self (halah !)

Sekarang ngga penasaran lagi kan :)
Semoga bermanfaat.

Copyright © 2008 - My Lo(v/n)ely Journey - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template