Senyum di Kulum

Sore itu seorang doktor dari Karlsruhe University, Jerman, seorang Master dari Hokaido University, Jepang, seorang Master dari Delft University, Nedherland seorang Master dari Indonesia University, Indonesia, dan seorang Enginer dari MIT(Mbandung Institute of Technology), Indonesia membicarakan satu topik yang sama mengenai budaya senyum dan daya tahan orang indonesia terhadap stress. Doktor yang lulusan jerman bercerita bahwa, para profesor di universiasnya keheranan melihat tingkah polah mahasiswa indonesia yang selalu tersenyum di setiap keadaan, bahkan ketika sedang diomeli sekalipun, hingga terbentik dalam pikiran si profesor "ini orang ngerti ngga sih yang saya omongin, kok diomelin malah senyam-senyum." Setali tiga uang dengan keadaan mahasiswa di jepang, master lulusan jepang bercerita bahwa di jepang sana orang-orangnya cenderung serius dan tidak mudah tersenyum, berkebalikan dengan orang orang indonesia yang berada di sana yang sehari-harinya dipenuhi dengan canda tawa. Bahkan konon kabarnya banyak orang-orang jepang yang tertarik dan lebih menyukai orang indonesia diandingkan orang jepang itu sendiri karena melihat orang indonesia yang jenaka dan penuh senyum. Begitupun yang terjadi di belanda sana, negeri yang sehari-hari langit mendungnya lebih sering muncul ketimbang sinar mataharinya ini melahirkan orang-orang yang cenderung murung dan serius, akan tetapi hal ini tidak mempengaruhi sifat kocak dan keceriaan orang-orang indonesia disana.

Inilah kelebihan orang indonesia yang sudah dikenal sejak jaman raja-raja dahulu kala, ramah dan murah senyum dalam keadaan apapun. Bahkan hal ini yang selalu digembar-gemborkan departemen pariwisata kita untuk menarik para turis melancong ke negeri ini. Jika ditelisik lebih jauh, mungkin inilah yang menyebabkan angka bunuh diri di indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan negara-negara lainnya. Budaya nrimo apa adanya yang dianut oleh sebagian besar masyarakat indonesia ini, membuat karakter orang-orangnya selalu tersenyum dalam setiap keadaan. Maka sangat aneh jika pada saat bencana banjir 5 tahunan menimpa jakarta beberapa bulan yang lalu, ada seorang mentri yang mengatakan agar tidak membesar-besarkan masalah banjir yang terjadi karena dia melihat para koban banjir masih bisa tersenyum dan tertawa. Apakah sang mentri lupa bahwa karakter rakyatnya seperti itu, mereka tersenyum dan tertawa bukan karena tidak merasa menderita, atau bahkan menikmati bencana itu, tidak, mereka tersenyum dan tertawa karena itu adalah karakter dari masyarakat ini, toh bagi mereka tidak ada gunanya berkeluh kesah dan bersedih hati dalam menghadapi penderitaan, karena bagi mereka, rakyat kecil itu, sebagian besar hidup mereka adalah penderitaan, jika mereka harus berkeluh kesah dan bersedih, tidak ada lagi sisa kehidupan bagi mereka.

Mungkin kita pernah melihat ditelevisi tentang liputan ke daerah daerah pinggiran atau kumuh di kota-kota besar suatu negara tertentu, di somalia, india, palestina, indonesia, cina, dan lain sebagainya, pernahkah kita perhatikan bagaimana kondisi masyarakat di daerah-daerah tersebut? Ada penderitaan yang sama yang saya lihat dari kondisi kehidupan masyarakatnya, tetapi ada satu hal yang saya temui pada masyarakat pinggiran negara kita yang tidak temui dalam masyarakat pingiran lainnya, saya masih bisa melihat orang-orang tersebut tersenyum dan tertawa riang di sudut kumuhnya lingkungan mereka. Inilah indonesia, inilah orang-orangnya, yang konon katanya masyarakatnya bermental budak, hal ini bisa dilihat dari penggunaan kata ganti orang pertama dalam bahasa indonesia, saya, yang berasal dari kata sahaya, yang artinya budak, atau kata ganti orang perama dalam bahasa sunda yaitu "abdi" dan "kawula" atau dalam bahasa jawa dikenal dengan sebutan "kulo" yang artinya sama dengam budak juga, tapi semoga saja interpretasi ini salah, soalnya tidak ada budak yang bisa dengan bebas menikmati hidup dengan tersenyum dan tertawa riang bukan?

Mungkin juga karakter ramah tamah dan murah senyum ini dibentuk oleh lingkungan dan alam yang tela diciptakan Tuhan untuk orang indonesia, negeri yang hijau, subur, makmur, zamrud khatulistiwa, yang konon tongkat dan batu bisa jadi tanaman. Maka tak heran jika Dr. Aidh Al Qarni, penulis buku fenomenal "La Tahzan - jangan Bersedih" ketika mengunjungi jakarta berkata seperti ini, "Seandainya saya tahu indonesia seindah ini ini sebelumnya, niscaya saya tidak akan menulis buku, cukup saya anjurkan orang pergi ke indonesia, dan rasa sedinya akan hilang." Sampai segitunya....

Inilah Indonesia...
Semoga senyumnya bukan hanya sekedar dikulum :)

1 comments:

adhiguna.mahendra@ieee.org said...

Iya bener memang tingkat bunuh diri kita cenderung rendah karena kita lebih nrimo dan tawakkal. Saya juga gitu, jadi engineer di Eropa ketika proyek gagal dan klien ngamuk ya saya happy2 aja..tapi orang Perancis sifatnya hampir sama dengan kita, lebih nrimo dan santai, yang penting sudah berusaha sebisanya..kalo orang Jerman, Jepang,Inggris, Amerika.. bisa stres dan bunuh diri kalau gagal.... atau minimal lari ke alkohol...

Nothing to lose aja prinsipnya, dapet sukur, gagal ya udah, yg penting kita udah berusaha semaksimal mungkin.

Copyright © 2008 - My Lo(v/n)ely Journey - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template