Manual Macro Photografy : Little Buddy

Kalau pada postingan sebelumnya saya menampilkan hasil fotografi makro untuk menangkap water drop atau tetesan air pada rerumputan, maka kali ini saya akan menampilkan beberapa foto hewan-hewan kecil seperti semut, serangga, dan laba-laba yang berhasil ditangkap oleh lensa makro "super" manual :D.

Setingan dan persiapannya hampir sama persis dengan setingan ketika mengambil gambar water drop. Perbedaan yang paling mendasar adalah, sekarang objeknya tidak diam. Sebenarnya pada saat memotret waterdrop objeknya tidak benar-benar diam 100%, ada faktor angin yang menggerakkan rerumputan yang otomatis membuat objek foto ikut bergerak. Akan tetapi pada kasus yang sekarang, objek memiliki kemampuan dan kesadaran untuk bergerak sendiri sekehendak hatinya. Oleh karena itu untuk dapat menangkap moment dengan baik, shuter speed harus dinaikan secepat mungkin dengan cara menaikan nilai ISO (dalam kasus ini saya set ISO ke 800), karena nilai aperture pada fotografi makro "super" manual ini sudah tak dapat diatur lagi (infinity). Memang,dengan mengeset ISO tinggi hasil foto akan terlihat sedikit bernoise, tapi ini lebih baik daripada hasil foto "blur" atau moment tidak didapatkan.


Selain itu karena objek tidak selalu berada dekat dengan permukaan tanah (bisa bergerak kemana saja), kita tidak bisa menggunakan gorillapod yang menempel pada tanah untuk mengurangi getaran. Tapi gorillapod tetap bisa digunakan dengan cara ketiga kakinya ditekankan atau ditempelkan pada dada, pundak, atau leher dengan cara membengkokan kaki-kakinya. Ini benar-benar sangat membantu untuk mengurangi getaran pada saat menekan shuter karena pada fotografi makro "super" manual ini getaran sedikitpun akan mengaburkan hasil foto. Secara sederhana, setingannya dapat digambarkan sebagi berikut :)





Before macro ...

tools: Canon EOS 450D+EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS
object: Habitat si little buddy

Dan inilah hasilnya .....

After macro ...

tools: Canon EOS 450D+ekstension tube(use ring 2&3 only)+lensa zoom Canon EF-S 18-55 mm f/3.5-5.6+gorilapod
object: Little Buddy



LIttle Rabbit

Ngisi waktu pagi sambil nunggui sarapan, foto-foto piaraan baru adek saya di halaman belakang rumah :).




Taken By Canon EOS 450D with EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS lense

Manual Macro Photography : Water Drop

Menyambung postingan saya sebelumya tentang fotografi makro dengan menggunakan extension tube yang murah meriah dibandingkan harus membeli lensa makro "beneren", di sini saya tampilkan beberapa hasil jepretannya yang lain. Kalau dulu saya hanya sempat mencoba tool ini di dalam ruangan dengan objek seadanya yang kebetulan ada di sekitar meja, kali ini dengan niat bulat berjongkok-jongkok di rerumputan di belakang rumah, mencoba menangkap titik-titik air di rerumputan pada pagi hari. Untuk meminimalkan goyangan kamera pada saat menjepret, saya menggunakan gorillapod, tripod pendek yang kaki-kakinya bisa disesuaikan bentuknya "semau gua." Karena menggunakan extension tube jarak lensa dan objek harus sedekat mungkun, bahkan tak jarang harus hampir menyentuh objek, untuk memotret titik-titik air ini diperlukan kehati-hatian agar lensa tidak menyenggol titik-titik air pada saat memotret. Selain itu harus benar-benar sabar pada saat memfokuskan lensa, karena pemfokusan dilakukan secara manual, pastikan benar-benar fokus pada bagian objek yang diinginkan baru menekan shuter. Berikut adalah hasil jepretannya ..


Before macro ...

tools: Canon EOS 450D+EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS
object: tetes-tetes air di rerumputan pada pagi hari




After Macro ...

tools: Canon EOS 450D+ekstension tube(use ring 2&3 only)+lensa zoom Canon EF-S 18-55 mm f/3.5-5.6+gorilapod
object: tetes-tetes air di rerumputan pada pagi hari


JAKARTA AT NIGHT : AMATEUR NIGHT SHOOT

Bagi sebagian orang, termasuk saya, gemerlap lampu kota Jakarta di malam hari menjadi pemandangan yang manarik hati. Sangat disayangkan kalau pemandangan ini hanya dinikmati sekejap mata. Adalah lebih berarti jika hal tersebut bisa diabadikan dalam sebuat karya fotografi.

Tadi malam, sekitar pukul 9 malam ditemani angin sepoi sepoi saya berkesempatan untuk mencoba memotret jakarta dari lantai 7 kantor di bilangan kuningan jakarta. Langit Jakarta lumayan cerah setelah diguyur hujan sebentar pada sore hari. Sayangnya tidak banyak gedung yang bercahaya karena hari libur. Dengan kamera sederhana Canon EOS 450 D dan lensa zoom standard 18-55 EF-S, "plus" tripod punya kantor, saya naik ke atas atap kantor.

Dalam fotografi malam, tripod merupakan salah satu tool paling pengting, pasalnya untuk mendapatkan exposure yang tepat biasanya dibutuhkan shuter speed yang cukup panjang dalam orde detik. Bahkan bisa sampai 30 detik atau kadang bulb. Bisa dibayangkan kalau harus memegang kamera tanpa bergerak selama itu.

Setelah mencoba jeprat-jepret beberpa kali, saya baru memahami pentingnya memilih tripod yang berkualitas. Kencangnya angin di ketinggian sekitar 30 meter diatas tanah pada malam hari sangat terasa. Angin ini dapat menggoyangkan tripod yang terlalu ringan seperti tripod pinjaman yang saya gunakan. Dan ini sangat tidak bisa di tolelir pada saat dituntut untuk bekerja pada shuter speed yang teramat lambat karena 'goyangan' sekecil apapun dapat membuat hasil jepretan tidak fokus alias blur.

Pertama kali mencoba saya menggunkan setingan ISO 100 untuk menekan noise serendah mungkin, dan aperture 8 atau 9. Dengan konfigurasi seperti ini pada kondisi cahaya yang minim untuk mempertahankan exposure yang tepat dibutuhkan shuter speed yang teramat lambat hingga 30 detik. Akhirnya setelah bosan menunggu tiap jepretan karena shuter speed yang teramat lambat, saya naikan ISO ke 400 dengan mempertahankan aperture. Konfigurasi seperti ini bisa mempercapat shuter speed sampai hanya 6-15 detik.

Dan... inilah hasilnya, setelah sedikit prosesing dengan adobe photoshop untuk meningkatkan ketajaman dan tones foto :)

Landscape:















Portrait:










Tebak-tebakan tak berhadiah:

Kalau melihat foto-foto di atas, dimanakah tepatnya posisi saya pada saat itu? :)

Balada Kodok Budug

" Masukan kodoknya ke dalam masjid, masukan kodoknya ke dalam masjid !" teriak seorang anak bawang dengan peci miringnya seraya menggapai-gapai tubuh lunak seekor kodok. Teman-temannya ikut sibuk mengejar. Ramai.

Tapi sang kodok terus meloncat, menjauhi tangan-tangan jahil bocah-bocah ingusan, yang kadang masih sulit membedakan antara tangan kiri dan tangan kanan.

Kodok itu pun menjauh, anak-anak bawang hanya bisa mengeluh perlahan, "yaaaaa ...".

Malam itu, para jamaah shalat isya masjid al-ikhlas terbebas dari gangguan kulit kodok yang budug.

Anak-anak bawang tertawa. Menertawakan kekalahan mereka atas si kodok budug. Tapi tawanya tak lama, karena setelah itu, seorang pemuda paruh baya menyuruh mereka masuk ke dalam masjid. Rupanya shalat telah usai.

Anak-anak itu baru selesai mengaji. Sejatinya mereka ikut shalat isya berjamaah, lalu pulang. Tapi malam itu, mereka terpaksa lebih lama berdiam di masjid. Guru ngajinya menghukum mereka karena konspirasi "Kodok Budug". Rupanya si guru ngaji tidak khusyu dalam shalat, masih sempat mendengar teriakan para anak bawang. Tapi anak-anak itu tidak mengerti kalau kodok dilarang masuk masjid.

Akhirnya mereka dapat tambahan sekitar dua puluh menitan merenung di dalam masjid yang gelap karena guru ngajinya mematikan semua lampu. Mereka disuruh merenungkan kesalahan yang telah diperbuat. Tapi para anak bawang tidak mengerti kesalahannya. Namun mereka sedikit mengerti kenapa sang kodok tidak boleh masuk masjid. Karena kulitnya budug.

Anak bawang dengan peci miring seolah serius merenung. Tapi yang direnunginya hanya satu, "kemana sang kodok pergi?".

Berpuluh-puluh tahun kemudian, dalam perenungan, sang anak menuliskan pengalamannya di sebuah blog.

Pengalaman Pertama Hunting Dadakan Foto Kampanye

Minggu, 29 Maret 2009.

Jam satu siang. Bosen duduk diam di rumah saat liburan. Akhirnya memutuskan jalan jalan ke kota Bandung. Tujuan awalnya hendak ke Bandung Electronic Center(BEC) tapi apa daya di Gasibu, tercegat kampanye akbar Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Karena tak bisa ke mana-mana, akhirnya saya keluarkan kamera dari tas ransel yang kebetulan saya bawa. Dan jeprat-jepret seadanya sambil nunggu jalanan agak lenggang.

Kampanye ini sejatinya sudah di mulai sejak pukul sepuluh pagi, tapi mungkin karena lapangan Gasibu masih tumpah ruah oleh pasar dadakan minggu pagi, acara akhirnya molor sampai jam setengah dua siang. Kampanye dibuka dengan pembacaan al-quran, kemudian disusul dengan pembacaan doa, lalu orasi, dan seterusnya (entah apa lagi), karena saya hanya sebentar di lapangan, sebatas baterai kamera saya masih menyala. Tiba-tiba di tengah asiknya jeprat-jepret, karena tidak ada persiapan hunting dadakan dan lupa belum mencharge baterai, baterai kamera habis tak tersisa, bahkan untuk preview sekalipun :p

Awalnya cuaca panas terik, tapi terus mendung dan hujan. Karena masih amatir setingan manual kamera lupa disesuaikan mengikuti perubahan cuaca, akhirnya banyak foto yang ngeblur karena shuter speednya yang rendah harus dipaksakan mengikuti alur kampanye yanga dinamis :p.

Kampanye merupakan moment unik tempat berkumpulnya ratusan bahkan ribuan manusia dengan ekspresi dan tingkah yang atraktif. Mencari dan mengejar moment adalah salah satu yang menarik dalam foto kampanye.










Hingar Bingar Kampanye





Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriyawan di arak menggukan kuda





Atraksi Flying Fox kader PKS


Ternyata hunting foto kampanye itu susah juga. Padat massa. Susah nyari angle yang bagus karena berdesakan. Masih mending yang mengantongi kartu press bisa masuk ke area panggung, jadi bisa dengan leluasa jeprat-jepret. Di tambah cuaca yang tidak menentu.Panas terik. Tiba-tiba mendung kemudian hujan rintik rintik. shuter speed terlalu lambat. Ketinggalan moment. Argh.... tapi lumayan buat belajar dan nambah pengalaman.

Copyright © 2008 - My Lo(v/n)ely Journey - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template