Bocah Pengamen di Kopaja P20

Selasa, 18 Maret 2009, menjelang tengah malam.

Malam itu jam menunjukan sekitar pukul 10 malam. Dari mampang saya mencegat Kopaja P20 ke arah Senen. Karena malam hari, hanya sedikit orang yang berada di dalam bis. Ketika saya masuk ke dalam, sudah ada seorang pengamen yang tengah mendendangkan sebuah lagu. Usianya mungkin sekitar sebelasan tahun.

Dengan menggunakan kaos oblong seadanya ditemani kecrekan pasir buatan tangan, dia membawakan lagu sejenis qasidahan. Yang menarik, si bocah pengamen ini membawakan lagu dengan hidmat dan penghayatan yang amat dalam bak konser tunggal Ariel Peterpan. Pelafalan bait demi bait syair lagu di fasihkan sedmikian rupa. Mulutnya bergerak "optimal" sesuai dengan pelafalan huruf bak seorang penyani seriosa. Ketika mengucapkan huruf vokal "A" maka mulut terbuka sebesar-besarnya, ketika melafalkan huruf "E" mulut di tarik selebar lebarnya, dan ketika melafalkan vokal "U" mulut di dorong se monyong-monyongnya. Sesuatu yang mengingatkan saya akan pelajaran seni musik di SMA dulu atau ketika belajar tahsin (memperbaiki bacaan al quran) dimana harus melafalkan mahkrojul huruf dengan jelas dan tepat. Hal yang agak aneh untuk anak seusianya dan sempat membuat saya berfikir kalau si bocah cacat mental. Dia bernyanyi cukup panjang, selesai lagu qasidah disambung lagu pop lainnya.

Setelah bernyanyi dia berdoa, mendoakan keselamat penumpang. Serius. Khusyu. Kemudian, seperti pengamen pada umumnya, ia meminta saweran kepada penumpang. Beberapa memberi. Sebagian besar acuh. Setiap ada orang yang memberi uang, bocah pengamen itu mengucapkan terimakasih dengan setulus hati. Ia berjalan dari depan sampai ujung belakang.

Umumnya, setelah mendapatkan uang, si pengamen langsung turun lewat pintu belakang. Tetapi tidak bagi bocah pengamen ini. Tanpa disangka-sangka, dan ini yang membuat saya takjub, ia kembali berjalan ke depan. Sambil berjalan ia hampiri satu-satu orang-orang yang telah memberinya uang tadi, kemudian berterimakasih secara personal. Setelah mengucapkan terimakasih untuk yang kedua kalinya baru ia turun dari bis.

Sungguh pemandangan yang jarang terjadi.


Belajar Dari Mesir


Mungkin bagi yang pernah membaca novel atau menonton film romantisme Ayat-Ayat Cinta akan tahu sedikit tentang gambaran hidup di Mesir, karena penulisnya yang pernah mengenyam kuliah dinegeri Piramida ini, 100% mengambil setting novel di negeri ini. Akan tetapi, ternyata, realita kehidupan di negeri tersebut lebih menakjubkan lagi, terutama semangat untuk memegang teguh ajaran agama Islam, setidaknya inilah yang digambarkan dalam beberapa artikel bersambung tentang keunikan Mesir di website www.eramuslim.com. Berikut adalah cuplikan-cuplikan kisah pengalaman beberapa mahasiswa yang pernah mengenyam kuliah di negeri tersebut:

“Ada sebuah fenomena menarik yang penulis lihat selama menimba ilmu di negeri Kinanah, Mesir. Anak-anak di negeri ini yang telah berusia 7 sampai 10 tahun rata-rata sudah hafal Al-Quran 30 Juz. “

“Di sekolah-sekolah Al-Azhar, anak-anak tamatan SD diwajibkan menghafal 17 juz. Kemudian ditingkat SMP, SMA sampai perguruan tinggi, mereka harus hafal Al-Quran. Masa-masa kecil inilah mereka dididik untuk menghafal Al-Quran. Karena pada masa itu otak mereka masih bersih, ibarat mengukir di atas batu. Sulit, namun sekali tergores susah hilangnya. “

“Hari itu seorang Mahasiswa Indonesia di Mesir pergi ke PUSKIN (Pusat Kebudayaan Indonesia). Karena dikejar waktu ia terpaksa naik taksi. Ketika dalam perjalanan, azan shalat Ashar berkumandang dari menara-menara masjid Kairo. Tanpa diduga, Sopir taksi itu minta izin berhenti sebentar untuk ikut shalat jamaah di Masjid. Tetapi karena merasa terburu-buru, pelajar Indonesia itu menolak untuk berhenti.

Sopir taksi yang tergolong masih muda dan bercelana Levis itu kelihatan kesal sekali. Disetelanya keras-keras suara azan di radio taksinya. Tidak hanya itu, ia mengebut-ngebutkan taksinya dengan kecepatan yang tinggi, membuat Mahasiswa itu sedikit takut. Namun ia merasa tenang setelah mendengar ucapan unik dari mulut Sopir taksi itu. Ia berkata, “Kalau bukan shalat Ashar dan Subuh sih tidak apa-apa?” katanya.

Sepertinya ia memang terbiasa shalat jamaah di masjid. Terutama shalat Ashar dan Subuh. Setelah mengatakan itu, ia mengangkat suaranya dengan hanya satu kalimat kemudian diam. Anda tahu apa bunyi kalimat itu? Kalimat itu adalah sebaris syair lagu milik Syaikh Musyari Rasyid yang berbunyi. “Inna Shalâtî mâ ukhallîhâ.” (Sungguh shalatku takkan pernah aku tingalkan).”

“Hari ketiga, Mahasiswa yang tadi juga, bersama seorang temannya hendak pergi menemuai Dr. Ragib as-Sirjâni di Pusat Studi Pradaban, di Kairo. Supaya cepat sampai tujuan, Mahasiswa itu naik taksi. Di tengah perjalanan, sopir taksi itu mengeluhkan kesibukan dan kesulitan hidup yang ia hadapi kepada kedua mahasiswa tersebut. Ia bercerita bahwa ia sangat sibuk sehingga tidak punya kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Setiap hari ia harus pergi pagi pulang malam untuk mencari nafkah bagi anak dan istri. Sehingga ia terpaksa mengulang hafalan Al-Qurannya di dalam Taksi tua yang ia kemudi. Ternyata sopir itu telah menghafal Al-Quran 30 Juz. Semenjak pagi itu, ia telah mengulang sebanyak 11 Juz di dalam taksinya. Ia bertanya kepada kedua mahasiswa penumpangnya, “Adakah di antara kalian yang hafal Al-Quran?” “Saya tidak hafal Al-Quran, tetapi ini ada teman saya yang hafal.” Jawab Mahasiswa tadi sambil menunjuk kepada temannya yang memang telah hafal Al-Quran. Sopir taksi itu berkata, “Tolong Anda simak! Saya akan membaca surat Yunus dari awal sampai akhir.” Jadi, selama perjalanan itu, kedua mahasiswa tadi khsuyuk mendengarkan seorang sopir yang mengulang hafalan surat Yunus di dalam taksinya.”


Untuk kisah lebih lengkapnya bisa di download file pdfnya di sini.

Mengapa HarusTakut Kepada Jin?

Membaca kitab klasik, saya dibuat heran dengan satu fenomena yang sekarang sangat ditakuti padahal jaman dahulu tidak demikian. Fenomena tersebut adalah tentang Jin.

Pada zaman sekarang, kebanyakan manusia sangat merasa ketakutan jika didatangi atau bertemu dengan makhluk bernama jin ini. Dengan berbagai bentuk samarannya, dari mulai pocong, kuntilanak, tuyul, dan lain sebagainya, Jin mampu memperdaya seorang anak adam hingga gemetaran, terkencing-kencing, bahkan tak sadarakan diri. Padahal, pada zaman kenabian dahulu, bukannya manusia yang takut terhadap jin, tetapi jin yang takut terhadap manusia. Bahkan pada zaman nabi Sulaiman alaihissalam jin tunduk, atas izin Allah, kepadanya.


“Dan kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syetan syetan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari pada itu, dan adalah Kami memelihara mereka”(Qs. Al-Anbiyaa [21]:82)

“ Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia, dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib (dalam barisan).” (Qs. An-Naml [27]:17)

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya adzab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih.” (Qs. Saba’ [34] : 12-13)



Sedangkan pada zaman nabi Muhammad SAW, beberapa kali Beliau SAW dan para sahabat berinteraksi dengan jin, dan menepis godaannya.

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Darda’ radiallahuanhu, ia berkata,

“ Suatu ketika Rasulullah sedang mengerjakan shalat, aku pun mendengar beliau berseru, ‘ Aku berlindung kepada Allah darimu !’ Lalu beliau kembali berseru, ‘ Aku melaknatmu dengan laknat Allah !’ Lalu beliau mengulurkan tangannya tiga kali seolah sedang memakan sesuatu. Setelah beliau menyelesaikan shalat, kami bertanya,’ Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan sesuatu dalam shalat yang tidak pernah kamu dengar sebelumnya. Dan mengapa engkau mengulurkan tanganmu?’ Beliau menjawab, ‘ Sesungguhnya musuh Allah (iblis) telah dating dalam bentuk nyala api dan mendekatiku, maka aku pun berkata tiga kali, ‘ Aku belindung kepada Allah !’ Dan aku juga berkata tiga kali, ‘ Aku melaknatmu dengan laknat Allah !’ Kemudian ingin kutangkap iblis itu. Demi Allah seandainya tidak ada perjanjian saudaraku Sulaiman alaihissalam dengannya tentulah anak-anak Madinah dapat menjadikan bola api itu sebagai mainan.” (HR. Muslim [543], Nasa’i[3/13], dan Baihaqi dalam Ad-Dala’il[7/98])


Dalam shahih Al Bukhari yang cukup panjang, dikisahkan mengenai pertemuan Abu Huarairah radiallahuanhu dengan Jin. Ia bekata,

"Suatu ketika , Rasulullah SAW menunjukku untuk menjaga zakat bulan Ramadahan, datanglah seseorang dan mencuri makanan tersebut. Maka aku menangkapnya dan aku katakan kepadanya, ‘ Demi Allah, aku akan membawamu menghadap Rasulullah SAW.’ Ia pun menghiba dan berkata, ‘ Aku terhimpit kebutuhan dan memiliki banyak anak. Aku benar-benar dalam kondisi mendesak.’ Karena rasa iba aku pun lantas melepaskannya.

Keeseokan harinya Rasulullah SAW bertanya, ‘ Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawanmu semalam?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, ia mengadu terhimpit kebutuhan yang mendesak dan memiliki banyak anak. Aku iba melihatnya, maka langsung kulepaskan ia.’ Rasulullah SAW berkata, ‘ Ia telah membohongimu. Ia pasti kembali lagi.’

Karena tahu ia akan kembali lagi sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW, maka aku intai lelaki itu hingga kudapati ia datang dan mulai mencuri makanan. Lalu kutangkap ia dan aku katakan kepadanya,’ Akan kubawa kau kepada Rasulullah SAW.’ Ia berseru, ‘Lepaskan aku! Aku ini orang yang sangat membutuhkan dan harus menanggung banyak anak.’ Lagi-lagi aku merasa iba dan kembali melepaskannya.

Keesokan harinya Rasulullah SAW bertanya lagi kepadaku, ‘ Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawanmu semalam?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, ia mengadu terhimpit kebutuhan yang mendesak dan memiliki banyak anak. Aku iba melihatnya, maka langsung kulepaskan ia.’ Rasulullah SAW berkata, ‘ Ia telah membohongimu. Ia pasti akan kembali lagi.’

Untuk ketiga kalinya aku intai lelaki itu. Ketika ia datangdan mencuri makanan, segera kutangkap dan aku katakan kepadanya, ‘ Aku benar-benar akan membawamu menghadap Rasulullah SAW, ini sudah ketiga kalinya kamu berjanji tidak akan kembali dan tidak akan mengulanginya!’

Lelaki itu berseru, ‘ Lepaskan aku. Akan ku ajari kau kata-kata yang dengan izin Allah dapat bermanfaat untukmu.’ Aku bertanya, ‘ Apakah itu?’ Ia menjawab,’ Jika hendak berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi, “Allah tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus meneus mengurus (makhluk-Nya).”(Qs. Al-Baqarah[2]:255) hingga rampung, niscaya sepanjang malam akan ada penjaga utusan Allah yang terus mengawalmu dan syetanpun tidak akan bisa mendekatimu hingga pagi tiba.’

Lantas aku lepaskan ia. Dan keesokan harinya Rasulullah SAW bertanya kepadaku, ‘ Apa yang telah dilakukan tawananmu semalam?’ aku menjawab,’ Ia berkata,” Jika hendak berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi, ‘Allah tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus meneus mengurus (makhluk-Nya).’(Qs. Al-Baqarah[2]:255) hingga rampung, niscaya sepanjang malam akan ada penjaga utusan Allah yang terus mengawalmu dan syetanpun tidak akan bisa mendekatimu hingga pagi tiba.”

Rasulullah bersabda, ‘ Ia telah berkata benar padamu meski ia sesungguhnya adalah seorang pendusta. Tahukah kamu, siapakah yang telah berbicara kepadamu selama tiga malam ini?’ Abu Hurairah menjawab, ‘Tidak. ’ Rasulullah SAW bersabda,’ Itu adalah Syetan ‘.” (HR. Bukhari [2311] dan Baihaqi dalam Dala’il An-Nubuwah[7/107-108])


Dalam kisah yang lainnya, Ali bin Abi Thalib mengisahkan,

” Suatu kali kami pernah bepergian bersama Rasulullah SAW. Beliau kemudian berkata kepada ‘Ammar, ‘ Pergilah mencari air untuk minuman kita !’ ‘ Ammaw pun pergi dan menemukan syetan menyamar dalam bentuk budak hitamyang sedang berdiri menghalanginya mengambil air. ‘ Ammar membanting syetan itu ke tanah dan berkata, ‘ Jangan halangi aku, biarkan aku mengambil air itu!’ Sejenak syetan itu menurut , namun ia kembali menghalanginya. Untuk kedua kalinya, ‘ Ammar membanting syetan itu ke tanah dan berkata, ‘ Biarkan aku mengambil air dan tinggalkan tempat ini !’ Syetan itu meninggalkan ‘Ammar namun ia kembali menghalanginya. Sekali lagi, ‘Ammar menangkap dan membantingnya ke tanah, kali ini syetan itu benar-benar meninggalkan ‘Ammar dan menepati perintahnya.

Di tempat yang berbeda, Rasulullah SAW berkata kepada kami, ‘ Sesungguhnya syetan telah menghalangi ‘Ammar untuk mengambil air dalam bentuk seorang budak hitam, dan sesungguhnya Allah SWT telah menolong ‘Ammar hingga ia mampu mengalahkannya.’

Kami lantas menemui ‘Ammar radiallahuanhu dan berkata, ‘ Beruntunglah kamu, wahai Abu Yadhan. Rasulullah telah menceritakan kepada kami peristiwa yang kamu hadapi.’

‘Ammar menjawab,’ Seandainya aku tahu bahwa ia adalah syetan, tentu sudah ku bunuh ia. Aku ingin menggigit hidungnya kalau saja baunya tidak begitu busuk menusuk hidungku’.” (HR. Abu Asy-Syaikh dalam Al’Azhamah[1107] dengan sanad shahih, Baihaqi dalam Ad-Dala’il[7/124], Thabari dalam Majma ‘Az-Zawa’id[9/293])



Dalam riwayat lainnya yang mengisahkan tentang keutamaan Umar bin Khatab, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa syetan tidak akan melalui jalan yang dilewati Umar, karena rasa takutnya kepada Umar.


”Wahai Umar demi Dzat yang menguasai jiwaku (Allah), tidak pernah syaitan itu mau melewati jalan yang biasa engkau lewati, tetapi ia melewati jalan yang biasa dilewati oleh orang selainmu.” (HR Bukhari dari Saad bin Waqqash .ra)


Di era tabiin kita mengenal Imam Ahmad bin Hambal yang hanya dengan terompahnya saja, jin fasik lari ketakutan.


Suatu saat Imam Hambal bin Hambal duduk di masjid, datanglah utusan Al-Mutawakkil, Amirul Mukminin yang memintanya untuk mendo’akan anak wanita Mutawakkil yang kesurupan.

Imam Ahmad tidak berdo’a tetapi malah memberikan dua sandal kayunya seraya berpesan, “Pergilah ke rumah Amirul Mukminin dan duduklah disisi kepala anak wanita yang kesurupan. Katakan kepada jinnya Ahmad berpesan kepadamu, mana yang lebih kau sukai, keluar dari anak wanita ini atau digampar tujuh puluh kali dengan sandal ini.”

Utusan tersebut melaksanakan pesan Imam Ahmad. Dan jin pun berkata, “Saya patuh dan taat. Seandainnya Imam Ahmad menyuruh kami agar tidak tinggal di Iraq, niscaya kami tidak tinggal di Iraq. Sesungguhnya dia (Ahmad) mentaati Allah. Sehingga Allah menjadikan segala sesuatu taat kepadanya.” Lalu jin itu keluar dari anak wanita tadi. Akhirnya ia sembuh dari penyakitnya.

Waktu pun berselang, Imam Ahmad sudah meninggal dunia. Jin tersebut merasuki tubuh si wanita itu lagi. Lalu Mutawakkil mengutus seseorang untuk memberitahukan Abu Bakar Al-Muruzi seraya minta bantuan. Kemudian AL-Maruzi membawa terompahnya Imam Ahmad dan pergi menemui wanita tersebut.

Kali ini jin berkata melalui lisan si wanita, “Saya tidak mau keluar dari wanita ini, karena Imam Ahmad taat kepada Allah, lalu Allah memberitahukan kami untuk taat. Jin tidak takut pada sandal kayu, ia takut pada keshalihan peruqyahnya.”(Duratun Nashihin)


Serta banyak lagi riwayat lainnya yang menunjukkan lemahnya Jin atau syetan dihadapan manusia yang beriman kepada Allah..Penguasaan manusia terhadap Jin tersebut bukan karena kehebatan si manusianya akan tetapi karena kekuatan iman manusia tersebut kepada Allah. Allah yang menciptakan dan memiliki makhluk yang bernama jin. Allah pulalah yang apat menundukkannya terhadap manusia. Tipu daya Syetan dan Jin hanya mengenai orang orang yang lemah imannya

Tidak ada sesuatu apapun yang layak untuk ditakuti kecuali Allah. Jin tidak memiliki kuasa apapun untuk mencelakakan manusia, kecuali atas izin Allah. Jadi mengapa harus takut, jika Allah ada disisi kita !


“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka".”(Qs. Al- Hijr[15]:39-40)

No Body Is Perfect

Suatu malam, ketika sedang asyik berjalan-jalan di Mall Ambasador sambil melihat-lihat dvd bajakan tiba-tiba lewat seorang bule dengan pasangannya. Pasangannya orang Indonesia. Tapi mungkin dibesarkan secara bule karena tingginya hampir sekitar 2 meter. Setara dengan lelaki bule yang digandengnya. Pakaiannya seksi seadanya. Hampir semua bagian paha sampai mata kaki bisa dinikmati oleh semua mata disana. Kakinya jenjang, langsing , dan tinggi. Saya jadi teringat dengan buku bergambar yang pernah saya miliki ketika SD, di buku itu ada gambar binatang yang kakinya ramping dan tinggi, nama binatang itu "Jerapah".


Tapi bukan penampilan wanita itu yang menarik bagi saya. Karena, toh pemandangan seperti itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari di Jakarta. Bukan pula lelaki bule yang menjadi pasangannya, karena sebagai lelaki normal, tak ada ketertarikan sedikitpun dengan sesame jenis, walaupun dia bule. Apalagi tentang hewan yang bernama Jerapah. Bukan. Bukan itu semua yang membuat saya tertarik.

Ketika pasangan tersebut lewat didepan counter DVD bajakan, sayup sayup saya mendengar percakapan dua gadis penjaga counter mengomentari sang wanita yang tinggi semampai tersebut.


“ Tinggi amat ya!”

Iya, TAPI cakep ya “


Ding….

Tiba tiba tertangkap sebuah frase di telinga saya “Tinggi TAPI cakep”. Kenapa harus ada embel embel “TAPI” nya. Apa perempuan tinggi tidak boleh cakep? atau selama ini para penjaga counter tersebut banyak melihat orang-orang yang tinggi tidak cakep?

Potongan frase yang sempat saya dengar tersebut mengingatkan saya akan ketidak sempurnaan makhluk Tuhan yang bernama manusia. Walaupun secara bentuk manusia ini sempurna, tapi tidak demikian dalam kenyataannya. Ada orang yang tinggi tapi jelek, sementara itu ada orang yang cakep tapi pendek. Ada orang kaya tapi bodoh, disisi lain ada orang pintar tapi miskin. Mungkin saja wanita yang tinggi dan cantik tersebut terlihat sempurna, tapi siapa tahu sifatnya? Seseorang yang terlihat sempurna oleh orang lain pasti tidak akan pernah merasa sempurna bagi dirinya sendiri.


“ …. dan manusia dijadikan bersifat lemah.”(Qs. Annisa(4):28)


Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya yang mendekatkannya ke pada kesempurnaan, sementar kekurangannya menjegal tangga menuju kesempurnaan itu. Tapi kesempurnaan tidak menjadi tolak ukur untuk seseorang menjalani kehidupan. Hidup tidak memerlukan kesempurnaan. Orang yang sukses bukan orang yang sempurna, tapi orang yang mengejar kesempurnaan. Orang yang sukses adalah orang yang fokus pada kelebihan yang dimilikinya, bukan pada kekurangannya. Ia mampu mengalihkan waktu berkeluh kesah pada kekurangnnya untuk menekuni kelebihannya.


“ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (Qs.AlMa’aaru(70): 19)


Ada seorang anak SD yang baru menerima raport. Nilai matematikanya 5. Sementara nilai Bahasa Indonesia dan nilai Keseniannya 8. Melihat nilai matematikanya merah, orang tua si anak marah-marah dan menuntutnya agar belajar Matematika dengan giat , sampai dikursuskanlah anak tersebut hanya untuk memperbaiki nilai matematikanya yang jeblok. Tapi apa daya, memang anaknya tidak punya bakat di bidang itu, pada saat menerima rapot berikutanya, nilai matematikanya hanya naik satu angka menjadi 6. Dan begitu seterusnya, orang tua si anak menuntut agar si anak terus menekuni mata pelajaran yang menjadi kelemahannya. Hingga kemudian anak itu tumbuh besar dan menjadi orang yang biasa-biasa saja, tanpa prestasi. Coba bayangkan seandainya orang tua tersebut lebih memfokuskan dan memberikan dukungan kepada mata pelajaran yang menjadi kelebihan sang anak. Bukan tidak mungkin kalau setelah dewasa, sang anak bisa menjadi pakar sastra, penulis handal, atau mungkin seniman terkemuka.

Ketidaksempurnaan bukan alasan untuk tidak berbuat. Jangan karena kita tidak merasa belum sempurna lantas kita tidak berbuat hal posistif yang kita bisa. Jangan karena kita memiliki banyak kekurangan lantas kita merasa hidup ini tidak hidup. Setiap orang pasti memiliki kelebihan, kelebihan yang tampak, kelebihan yang dirasakan. Fokuskan saja energi pada berbagai kelebihan tersebut dan buat hidup ini menjadi lebih hidup.

Mengejar kesempurnaan adalah keniscayaan, tapi menjadi sempurna hanyalah utopia. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, kesempurnaan hanya milik TUHAN. Menyadarinya membuat kita lebih dewasa menyikapi hidup dan membuat kita lebih bersyukur.


"…..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih" (Qs. Ibrahim (14):7)

Di Sudut Terminal Kampung Melayu

Jumat,27 februari 2009, sekitar jam 5 sore.

Sore itu, halte busway kampung melayu tampak lengang. Hanya beberapa calon penumpang. Beberapa muda mudi berbaris antri di depan. Seorang ibu bergaya modis, yang menunjukkan tingkat sosialnya, tepat berdiri disamping saya. Petugas halte busway terbuai dengan kesibukannya.

Di tengah kekhusyuan hingar bingar sebuah terminal, tiba tiba pecah sebuah tangisan. Suaranya melengking tinggi. Kecil. Seorang balita. Serentak kepala para calon penumpang busway menengok ke arah kiri, arah datangnya suara. Separuh acuh.

Seorang balita perempuan, tanpa busana basah kuyup tepat di samping kiri bawah halte. Ibunya yang tunawisma sedang memandikannya, atau mungkin hanya mengelap tubuhnya dengan kain basah karena saya tidak melihat ada sumber air di sana. Sementara rekan-rekan tunawisma lainnya berasyik masyuk mengobrol antar sesamanya dipinggiran jalur masuk busway. Balita itu mungkin dibersihkan setelah seharian bekerja dengan ibunya, atau yang mengaku ibunya. Sebagai seorang tunawisma, kerjanya mungkin berjualan asongan, atau bahkan mengemis.

Sejenak ada rasa prihatin di hati. Kulayangkan pandangan ke sekitar. Disampingnya, seorang petugas busway sedang asyik ber-sms ria sambil bercanda dengan kawannya. Para eksekutif muda terburu buru, bergegas pulang mengejar kendaraan. gadis-gadis SMA tertawa cekikikan. Supir mikrolet ribut soal omprengan. Ramai. Beragam. Tapi semuanya Acuh. Inilah Jakarta, manusia sibuk dengan dirinya sendiri.

Kuarahkan pandangan tepat ke samping sebelah kananku. Tampak sang ibu yang bergaya modis di sebelahku memandang takzim sang balita. Entah apa dibenaknya. Kasihan? Jijik? Sebal? tak dapat kubaca ekspresinya. Cukup lama ia terpaku. Mungkin ingat anak-anaknya dirumah atau mungkin ingat kamar mandinya yang luks plus shower dan air hangat.

Busway datang. Semua terkesiap. Berebut naik. Berebut tempat duduk. Setelah itu lupa. Lupa akan tangisan si balita. Mungkin sebagian menyimpannya dihati. Tapi setelah itu lupa.

"Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara" (Pasal 32, UUD 45)

MyGazine : Child Photography

Zaman dahulu kala, ketika saya SMA, para komikus underground Indonesia menerbitkan karyanya secara sederhana, cukup difotokopi, dan di jual secara murah meriah, bahkan terkadang gratis hanya untuk menunjukkan eksistensinya. Lain halnya dengan sekarang, ketika internet sudah menjadi barang umum yang bisa dinikmati siapa saja, fase aktualisasi kreativitas beralih dari hard copy ke soft copy. Ruang pamer gratis dapat diperoleh di sudut-sudut dunia maya. Terinspirasi hal tersebut, sekaligus untuk memenuhi janji saya pada postingan sebelumnya tentang hasil jepretan lensa CANON EF 50 mm f/1.8 II, iseng-iseng saya buat postingan berikut ini dengan format majalah, i call it MyGazine alias majalah iseng punya gua :)). just for refresh my creativity. Selamat menikmati.












download pdf version here



Mengurai Fenomena Si Dukun Cilik Ponari

Fenomena Ponari sang dukun cilik dan batu ajaibnya memang menarik, terutama bagi media yang haus akan berita sensasional. Daya penyembuhan batu ajaib Ponari yang "cespleng" plus pemberitaan media massa yang terlalu dibesar besarkan mendorong lautan manusia mengalir ke pintu rumah sang dukun cilik. Gak perlu repot, tinggal "Celup", penyakit hilang (konon katanya). Tak ayal fenomena ini meruntuhkan bangunan peradaban pengobatan modern yang telah berabad abad dibangun atas dasar sain dan rasionalitas dan mengajak kita kembali ke era sebelum renaisance.

Sebenarnya, kalau kita mau jujur, orang orang yang memiliki kemampuan penyembuhan seperti Ponari sangat banyak di negeri ini, metode pengobatan "cespleng" yang menegasikan peran para dokter atau mantri di klinik desa. telah banyak dilakukan oleh orang-orang sebelum Ponari. Perantaranya memang bukan batu, bisa kemenyan, ayam hitam, atau cuma jampi jampi biasa. Kita selama ini mengenal mereka dengan "dukun besar" sebagai kebalikan dari gelar "dukun cilik" yang disandang Ponari. Tapi mengapa hanya Ponari yang menjadi Fenomenal? Mungkin ini tidak hanya masalah besar kecil saja, selain Ponari sebelumnya hanya dikenal sebagai bocah ingusan biasa yang tiba tiba memiliki ilmu penyembuhan tingkat tinggi, dia juga tidak memasang tarif atas jasa pengobatannya alias gratis.

Saking fenomenalnya, ini kemudian menjadi kontroversi dimasyarakat. Menjadi kontroversi dikalangan akademisi kedokteran yang merasa ilmunya dilangkahi oleh seorang bocah ingusan. Menjadi kontroversi dikalangan PDSI (Perhimpunan Dukun Seluruh Indonesia) yang pemasukannya agak sedikit berkurang karena pengobatan gratis Ponari. Menjadi kontroversi di komnas perlindungan anak karena ada sinyalemen exploitasi anak di bawah umur. Dan menjadi kontroversi dikalangan yang "mengaku/merasa" ulama yang bingung menimbang isu dukun cilik ini antara kemampuan yang diberikan Allah dan biang kesyirikan.

Lantas bagaimana sikap kita sebagai umat islam menyikapi berbagai kontroversi itu. Bolehkah kita ikut-ikutan meminta air "celup" nya Ponari?

Saya sendiri bingung dengan berbagai kontroversi itu. Bukan bingung dengan Fenomenanya, tetapi bingung dengan pendapat beberapa orang yang "mengaku/merasa" ulama yang dibingungkan oleh fenomena tersebut, bingung antara melarang dan mempersilakan berobat kepada si dukun cilik. Lebih membingungkan lagi beberapa diantaranya bahkan mempersilakan mereka berobat dengan batu ajaib tersebut.

Padahal fenomena tersebut begitu terang di mata saya sebagai orang awam, bahwa fenomena ini adalah kerjaan syetan atau jin fasiq untuk pendangkalan aqidah umat. Mengapa saya berani mengatakan demikian?

Mari kita urai permasalahannya satu persatu dalam bingkai Islam.



Apakah Fenomena tersebut Mu'jizat yang diberikan Allah kepada Ponari?

1. Dalam Islam mu'jizat hanya diberikan kepada para nabi dan rosul. Sedangkan "keajaiban" yang diberikan kepada manusia biasa disebut dengan Ma'unah. Akan tetapi tidak sebarangan orang bisa memperoleh Ma'unah tersebutm hanya hamba-hamba Allah yang saleh, ikhlas, dan faham akan dinul islam yang bisa mendapatkannya. Apakah Ponari termasuk ke dalam golongan orang-orang tersebut?

2. Yang namanya Mu'jizat/ Ma'unah sifatnya hanya sementara, pada saat itu, tidak bisa diulang, bahasa kerennya tidak bisa di ON/OF kan. Ketika nabi musa diberi mu'jizat dapat membelah laut Merah dengan tongkatnya, mu'jizatnya itu hanya berlaku pada saat itu, hanya pada saat beliau dan kaumnya di kejar oleh tentara Firaun. Beliau tidak dapat mengulangi mu'jizat itu setelahnya. Atau ketika nabi Isa diberi mu'jizat untuk menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penderita penyakit kusta, pekak, dan buta. Beliau tidak serta merta bisa mengulang mu'jizatnya itu di lain waktu dan di lain tempat, itu hanya terjadi sekali, oleh karenanya dalam sejarah kita tidak menemukan balai pengobatan yang didirikan oleh nabi Isa. Lantas bagaimana dengan ponari?


Kalau bukan Mu'jizat, lantas Apa?

Dalam islam ada juga kemampuan "ajaib" yang diberikan kepada yang bukan orang saleh atau bahkan kepada orang yang bermaksiat sekalipun, yang dikenal dengan sebutan Istijraj.

Rasulullah bersabda, “Apabila kamu melihat Allah memberi seorang hamba apa yang diinginkannya, padahal hamba itu selalu berbuat maksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj dari Allah untuknya”. (HR. Ahmad dan Thabrani, dalam kitab as-Syu’ab).

Disisi lain fenomena penyembuhan tersebut merupakan tipu daya syetan/ jin fasik - atas izin Allah- untuk mendangkalkan aqidah umat Islam melalui Ponari, dan hanya orang orang yang muhlis saja yang tidak tertipu oleh tipudaya syetan ini:

"Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka" (Qs. Al-Hijr: 39-40)

Tipu daya Syetan itu kian hari memang kian halus. Mungkin kita pernah mendengar tentang penemuan ikan yang bertuliskan lafaz La ilaaha ilallah di Tuban, Jawa Timur. Alih-alih memperkuat iman penduduk sekitar, yang ada malah mereka mengambil air yang dipakai ikan tersebut, dan menganggapnya sebagai air berkah.

Sebenarnya, seperti telah saya singgung dimuka, penyembuhan "instant" seperti yang dilakukan oleh Ponari telah lama dikuasai oleh para dukun lainnya, meskipun metodenya berbeda. Tapi kenapa sebutan mu'jizat atau kata kata manis lainnya hanya di sandangkan pada Ponari?

Mari Berlogika

Secara logika, penyembuhan melalui media batu yang dicelupkan kadalam air adalah tidak masuk akal, yang ada seharusnya si pasien malah menjadi sakit karena air menjadi kotor akibat celupan batu tersebut. Jika tak masuk akal maka kita harus menganalisanya melalui pendekatan metafisis/ghaib. Sebagai umat islam kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ghaib itu hanya Allah yang tahu, dan itu dijelaskan dalam Al-Quran dan hadits. Sekarang mari kita periksa adakah cara pengobatan yang tidak masuk akal tersebut dalam Al-quran dan hadits? Adakah contoh dari pengobatan seperti itu dari rosulullah dan para sahabatnya? Seandainya pengobatan seperti ini baik dan merupakan "rahmat Allah" sudah selayaknya jika Rosulullah melakukannya, tetapi kenyataannya tidak.

Jika dalam tuntunan syariah tidak ada pengobatan yang seperti ini, sudah dapat dipastikan bahwa ini datangnya dari Jin/ syetan, dan tidak layak bagi seorang muslim berobat dengan cara seperti ini.

Mari kita bandingkan metode pengobatan batu "celup" itu dengan air zam-zam.

Misalkan, pengobatan dengan air zam-zam itu tidak masuk akal . Maka kita harus menganalisanya melalui pendekatan metafisis. Adakah penjelasannya dari al-quran/ hadits? ternyata ada:

Diriwayatkan dalam Shahîh Muslim, Nabi saw. pernah bertanya kepada Abu Dzarr, yang telah tinggal selama 30 hari siang-malam di sekitar Ka’bah tanpa makan-minum, selain air zam-zam, “Siapa yang telah memberimu makan?”

“Saya tidak punya apa-apa kecuali air zam-zam ini. Namun, saya bisa gemuk dengan adanya gumpalan lemak di perutku,” Abu Dzarr menjelaskan.

“Saya juga tidak merasa lelah atau lemah karena lapar dan tak menjadi kurus,” tambah Abu Dzarr.

Lalu Nabi saw. menjelaskan: “Sesungguhnya zam-zam ini air yang sangat diberkahi; ia adalah makanan yang mengandung gizi.”

Nabi saw. Menambahkan, “Air zam-zam bermanfaat untuk apa saja yang diniatkan ketika meminumnya. Jika engkau minum dengan maksud agar sembuh dari penyakitmu maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan maksud supaya merasa kenyang maka Allah mengenyangkanmu. Jika engkau meminumnya agar hilang rasa hausmu maka Allah akan menghilangkan dahagamu itu. Ia adalah air tekanan tumit Jibril, minuman dari Allah untuk Ismail.” (HR Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas)

maka pengobatan dengan air zam-zam adalah halal, karena meskipun tidak masuk akal, tetapi ada penjelasannya di al-quran dan hadits. Meskipun sebenarnya keajaiban air zam-zam sekarang bisa dijelaskan secara sains dengan ditemukannya unsur-unsur hara yang ada pada air ini. Dan ternyata kalau dirunut semua pengobatan cara nabi itu bisa dijelaskan secara ilmiah, tidak ada yang tak masuk akal.


Pengobatan yang diajarkan Nabi

Seandainya keajaiban pengobatan ala Ponari ini merupakan rahmat Allah kepada hambanya, bukankah Rasulullah, para sahabat, dan para ulama lebih berhak memilikinya?

Tapi mengapa ketika tubuh rasulullah terluka ketika perang ia harus mengobati lukanya dengan besi yang dibakar?

Mengapa rasulullah hanya menganjurkan berbekam untuk mengobati penyakit?

Mengapa Umar bin Khatab tidak jadi memasuki suatu perkampungan karena kampung tersebut terjangkit wabah kolera?

Mengapa beberapa sahabat nabi meninggal karena penyakitnya?


Mengapa nabi susah susah bersabda pada umatnya bahwa pengobatan itu dapat dilakukan dengan bekam, besi panas, habbatusauda dan madu, jika ternyata Allah menurunkan pengobatan "hanya" dengan batu?


Pengobatan "Ajaib" yang dibolehkan dalam Islam

Satu satunya pengobatan ajaib dan instan dalam Islam adalah dengan bacaan Alquran, bukan melalui dukun atau batu. pengobatan semacam ini dikenal dengan istilah RUQYAH.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata ketika memberikan komentar terhadap hadits yang menyebutkan tentang wanita yang menderita ayan (epilepsi): “Dalam hadits ini ada dalil bahwa pengobatan seluruh penyakit dengan doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lebih manjur serta lebih bermanfaat daripada dengan obat-obatan. Pengaruh dan khasiatnya bagi tubuh pun lebih besar daripada pengaruh obat-obatan jasmani.
Namun kemanjurannya hanyalah didapatkan dengan dua perkara:
Pertama : Dari sisi orang yang menderita sakit, yaitu lurus niat/tujuannya.
Kedua : Dari sisi orang yang mengobati, yaitu kekuatan bimbingan/arahan dan kekuatan hatinya dengan takwa dan tawakkal. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari 10/115)

Dalam hadits Abu Sa‘id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu tentang ruqyah dengan surat Al-Fatihah yang dilakukan salah seorang shahabat, benar-benar terlihat pengaruh obat tersebut pada penyakit yang diderita sang pemimpin kampung. Sehingga obat itu mampu menghilangkan penyakit, seakan-akan penyakit tersebut tidak pernah ada sebelumnya. Cara seperti ini merupakan pengobatan yang paling mudah dan ringan. Seandainya seorang hamba melakukan pengobatan ruqyah dengan membaca Al-Fatihah secara bagus, niscaya ia akan melihat pengaruh yang mengagumkan dalam kesembuhan.

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata: “Aku pernah tinggal di Makkah selama beberapa waktu dalam keadaan tertimpa berbagai penyakit. Dan aku tidak menemukan tabib maupun obat. Aku pun mengobati diriku sendiri dengan Al-Fatihah yang dibaca berulang-ulang pada segelas air Zam-zam kemudian meminumnya, hingga aku melihat dalam pengobatan itu ada pengaruh yang mengagumkan. Lalu aku menceritakan hal itu kepada orang yang mengeluh sakit. Mereka pun melakukan pengobatan dengan Al-Fatihah, ternyata kebanyakan mereka sembuh dengan cepat.”
Subhanallah! Demikian penjelasan dan persaksian Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu terhadap ruqyah serta pengalaman pribadinya berobat dengan membaca Al-Fatihah. (Ad-Da`u wad Dawa` hal. 8, Ath-Thibbun Nabawi hal. 139)


Pilih sembuh dari penyakit atau pilih Allah

Jika ada orang yang beralasan datang ke pengobatan "instant" ala dukun karena penyakitnya tidak sembuh sembuh bahkan dengan pengobatan dokter sekalipun. Maka ceritakanlah tentang kisah nabi Ayub yang badan dan kulitnya hancur karena penyakit kronis, bahkan saking lamanya penyakit ini, istri dan saudara saudaranya pergi meninggalkan beliau. Lalu apa yang dilakukan nabi Ayub? Ia rela atas ketentuan Allah (setelah usaha maksimal) dan ia hanya meminta kepada-Nya dalam doanya supaya lidah dan hatinya tidak rusak oleh penyakit itu agar ia tetap bisa berdzikir kepada-Nya.

Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya kita mengikhtiarkan kesembuhan dari penyakit sesuai dengan yang disyariatkan, pergi kedokter, tabib, akupuntur, berbekam, mengkonsumsi makanan herbal, madu, ataupun dengan bacaan-bacaan alquran dan tentu saja berdoa kepada Allah. Adapun proses pengobatan "instan" dan "ajaib" yang diluar ketentuan syariat sudah dapat dipastikan adalah perbuatan syetan/jin, dan meminta pertolongan kepada hal yang demikian adalah haram hukumnya.

"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan" (Qs. Al Jin:6)

Apa gunanya kesembuhan, kalau ternyata aqidah kita rusak. Apa gunanya kesembuhan kalau untuk meraihnya kita harus melanggar syariatnya.


Larangan pergi ke dukun

Untuk memantapkan, alangkah lebih baik kalau saya kutip beberapa hadits tentang larangan keras pergi ke dukun,


"...'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru saja masuk Islam. Allah telah menurunkan dienul Islam kepada kami. Sesungguhnya di antara kami masih ada yang mendatangi dukun.' Beliau menjawab, 'Jangan datangi dukun!' 'Di antara kami masih ada yang suka bertathayyur (anggapan sial karena melihat atau mendengar sesuatu, misalnya melihat burung tertentu atau mendengar suatu binatang tertentu),' lanjutku. Rasulullah menjawab, 'Itu hanyalah sesuatu yang terlintas dalam hati mereka, maka janganlah sampai mereka menangguhkan niat karenanya.' Kemudian aku lanjutkan: 'Sesungguhnya di antara kami masih ada yang mempraktekkan ilmu ramal.' Rasulullah menjawab, 'Dahulu ada Nabi yang menggunakan ilmu ramal. Apabila sesuai dengan ramalan Nabi tersebut maka silahkan lakukanlah.' .."(HR Muslim [537])

Diriwayatkan dari Shafiyyah binti Abi Ubaid Rasulullah, dari salah seorang isteri Nabi saw., dari Nabi saw, beliau bersabda, "Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu lalu ia membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam." (HR Muslim [2230]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa mendatangi dukun lalu membenarkan perkataannya, atau menggauli isterinya yang sedang haidh atau menyetubuhi isterinya pada duburnya, maka sesungguhnya ia telah berlepas diri dari ajaran yang diturunkan kepada Muhammad saw." (Shahih, HR Abu Dawud [3904], At-Tirmidzi [135], An-Nasa'i dalam al-Kubra [X/124], dan Ibnu Majah [639])


Allah menurunkan penyakit pasti menurunkan obatnya juga, bukankah bisa jadi obatnya melalui Ponari?

Betul sekali, Allah yang menurunkan penyakit pasti menurunkan juga obatnya, tetapi pengobatan itu harus sesuai syariat dan obatnya harus dari bahan yang halal. Dalam Islam, tidak hanya hasil saja yang dinilai tetapi juga proses yang dijalani. Islam bukan Machiaveli yang menghalalkan segala cara (bahkan cara kotor sekalipun) untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Berobat untuk mencari kesembuhan dengan jalan yg diluar syariat islam sama dengan orang yang mencari rizki dari Allah dengan cara mencuri, rizkinya itu sendiri halal pada mulanya, tetapi menjadi haram karena jalan untuk memperolehnya yang diharamkan.

Sebagai penutup alangkah baiknya jika saya kutipkan kesimpulan tentang fatwa berobat ke dukun dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram:


Sejatinya, sakit itu datang dari Allah ta’ala. Dialah yang akan menyembuhkannya pula. Namun, kita dibolehkan untuk mencari kesembuhan dengan yang halal dan dibolehkan oleh syariat. Maraknya pengobatan alternatif membuat kita harus berhati-hati agar mendapatkan kehalalan dalam berobat. Salah satu pengobatan alternatif yang sangat jauh dari syariat adalah berobat ke dukun. Berobat ke dukun merupakan suatu keharaman karena telah dilarang oleh syariat. Larangan untuk pergi ke dukun baik untuk berobat atau untuk keperluan lainnya, datang dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua hadits yang telah disebutkan di atas. Semoga kita senantiasa dijauhkan dari hal-hal yang telah diharamkan oleh syariat.


Wallahu a'lam bishshawab.




Copyright © 2008 - My Lo(v/n)ely Journey - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template